
Kawan KISS FM,
Akademisi Universitas Muhammadiyah Jember menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah, yang hampir menyentuh Rp17.000 per dolar AS. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan berat pada perekonomian Indonesia.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unmuh Jember, Dr. Eko Budi Satoto, mengatakan, kondisi ini memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Seperti diketahui, pada Rabu 9 April 2025, rupiah melemah hingga 0,24 persen dan bahkan sempat di titik terburuknya yakni Rp16.970 per US dolar.
Eko mengatakan, faktor eksternal dan internal saling berpotensi memperburuk situasi. Kondisi perekonomian Indonesia saat ini dinilai sangat berat, dengan beban utang yang banyak, juga ditambah dengan kebijakan perekonomian yang tidak disukai oleh pasar, seperti adanya Danantara.
Sementara itu dosen FEB Unmuh Jember, Achmad Hasan Hafidzi, menyoroti kebijakan larangan ekspor sawit ke Eropa dan pembatasan nikel dinilai memperburuk hubungan dagang dengan negara-negara Eropa. Meskipun hubungan dengan China masih baik, masalah lain muncul ketika Amerika Serikat memberlakukan tarif ekspor tinggi, yang berdampak pada banyak negara, termasuk Indonesia.
Dia menambahkan, pelemahan rupiah diperparah oleh penurunan pasar saham. Bahkan hampir semua saham anjlok. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator adanya krisis.
Menurutnya, kenaikan dolar AS bisa membebani industri yang bergantung pada bahan baku impor dan berpotensi meningkatkan angka pengangguran. Dia menyebut, kebijakan tarif impor AS sebesar 32 persen, jadi salah satu pemicu melemahnya rupiah.
(639 views)