SMK Kasih Ibu Pakusari terpaksa membangun ruang kelas dari anyaman bambu, akibat melubernya siswa yang mendaftar. Meski melebihi kapasitas, SMK gratis ini tidak menolak siswa, karena mereka semua berasal dari keluarga tidak mampu.
Wakil Kepala Smk Kasih Ibu Muhammad Muslim menceritakan, setiap tahun biasanya SMK Kasih Ibu hanya menerima 20 rombel, masing-masing 36 orang siswa. Namun tahun ini jumlah pendaftar mencapai 1200 orang, yang setelah diseleksi 27 rombel dinyatakan layak diterima.
Jumlah tersebut tentu juga masih terlalu banyak, sehingga pihaknya terpaksa menggelar rapat bersama orang tua calon siswa. Dihimbau kepada orang tua yang masih mampu, untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri atau swasta lainnya saja, hingga akhirnya diperoleh 24 rombel.
Karena keterbatasan ruang kelas lanjut Muslim, untuk sementara pihaknya terpaksa membangun 7 ruang kelas darurat beratap asbes dengan dinding anyaman bambu. Karena untuk membangun ruang kelas permanen butuh waktu, tenaga dan biaya yang tidak mungkin bisa terlaksana dalam waktu cepat.
Lebih jauh Muslim menjelaskan, pada prinsipnya SMK Kasih Ibu tidak akan menolak siswa, jika memang berasal dari keluarga tidak mampu. Sebab menolak siswa merupakan suatu penghianatan terhadap lembaga pendidikan Kasih Ibu.
Sementara Melvi Anisa salah satu siswa kelas XII, mengaku terharu sekaligus senang meski harus belajar di ruang kelas berupa gubuk. Meski terkadang kepanasan dan atap bocor saat hujan, anisa merasa senang karena bisa tetap sekolah, disaat kondisi ekonomi keluarganya serba kekurangan.
(1.599 views)