Jadi Negara Terbesar ke-8 Penghasil Sampah, Dosen Unej Tawarkan Kemasan Plastik Ramah Lingkungan

Kawan KISS FM,

Dosen Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej), Asrofi, menciptakan biokomposit sebagai kemasan ramah lingkungan untuk mengurangi sampah plastik karena Indonesia kini sedang menghadapi darurat sampah plastik.

Dosen yang masuk dalam daftar dua persen ilmuwan berpengaruh di dunia versi Stanford University itu mengatakan, Indonesia menduduki posisi kedelapan sebagai negara yang paling banyak menghasilkan sampah plastik, dengan jumlah 3,4 juta ton per tahun. Data itu bersumber dari World Population Review tahun 2024.

Menurutnya, sampah plastik memerlukan waktu yang lama untuk terurai, bahkan ada yang memakan waktu ratusan tahun agar bisa terurai. Salah satu solusinya yakni penggunaan plastik ramah lingkungan dari bahan alami atau bioplastik atau biokomposit. Konsep tersebut kembali dia tawarkan dalam peringatan Dies Natalis ke-60 Unej pada Senin, 11 November kemarin.

Bahan utama pembuatan plastik ramah lingkungan itu sendiri, kata Asrofi, berasal dari limbah biji mangga, eceng gondok, tandan kosong sawit, ampas tebu, dan bahan yang berasal dari tanaman lainnya.

Ia menjelaskan dua hasil penelitiannya terkini, yakni pertama, plastik untuk bahan makanan berbahan limbah biji mangga yang tidak terpakai diubah menjadi gelatin, lalu diproses sebagai plastik ramah lingkungan. Dari hasil uji coba di laboratorium, biokomposit yang diciptakan memiliki kemampuan tahan panas yang lebih baik dari tas kresek LDPE yang umum dipakai di pasaran.

Pihaknya juga mengembangkan kertas dari serat ampas tebu dan tandan kosong kelapa sawit. Produk ini nantinya cocok untuk pembungkus atau kardus makanan. Bahkan, karton dari tandan kosong kelapa sawit memiliki kekuatan yang lebih baik sehingga bisa dipakai untuk tempat telur atau egg tray.

(628 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.