
Kawan KISS FM.
Petani timun asal Kecamatan Arjasa, Jumantoro, menilai keberadaan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember hingga kini belum memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani, khususnya saat harga timun mengalami penurunan.
Menurut Jumantoro, harapan petani sebelumnya cukup besar karena program dapur MBG disebut dapat menggerakkan ekonomi kerakyatan dan menyerap hasil pertanian lokal. Namun, kondisi di lapangan dinilai belum sesuai dengan harapan tersebut.
Ia mengungkapkan, harga timun saat ini masih berada pada tingkat yang rendah sehingga petani belum merasakan manfaat dari keberadaan dapur MBG.
Jumantoro menilai kebutuhan bahan pangan untuk dapur program tersebut masih banyak diperoleh melalui pasar atau jalur distribusi lain, bukan langsung dari petani. Selain itu, ia menyoroti sejumlah bahan makanan yang digunakan di dapur MBG yang menurutnya masih didominasi produk pabrikan. Kondisi tersebut dinilai membuat hasil pertanian lokal belum terserap secara maksimal.
Lebih jauh Jumantoro mengatakan sebagian besar petani juga belum mengetahui adanya mekanisme kerja sama langsung antara petani dan pengelola dapur MBG. Akibatnya, hasil panen petani tetap dijual melalui pasar dengan harga yang tidak menguntungkan. Karena itu, ia berharap pengelola dapur MBG maupun program ekonomi kerakyatan lainnya dapat membeli kebutuhan pangan langsung dari petani.
<<<< Rusdi
(57 views)