Perubahan Jam Kerja ASN Dinilai Korbankan Pendidikan Madin di Pedesaan

Uji coba pelaksanaan jam kerja baru Aparatur Sipil Negara (ASN) mendapat protes dari tokoh masyarakat dan pendidikan pinggiran desa Jember. Sebab, pergeseran waktu jam kerja tersebut mempersempit waktu belajar Madrasah Diniyah (Madin) atau sekolah non formal agama Islam. Diketahui, uji coba kebijakan Bupati Jember menggeser jadwal hari efektif ASN mulai jam 8 pagi hingga jam 4 sore.

Menurut salah seorang tokoh agama dan masyarakat Kecamatan Ledokombo, Muhammad Khoironi, pergeseran waktu tersebut berakibat pada pergeseran waktu pulang sekolah. Dia menjelaskan, sekolah SD yang biasanya pulang jam 12.15 WIB sampai di rumah sekitar jam 12.30 WIB. Sedangkan waktu Madrasah Diniyah masuk sekitar jam satu siang, sehingga anak masih punya jeda waktu istirahat sekitar 30 menit di rumah. 

Dengan pergeseran waktu saat ini, siswa SD baru pulang sekitar jam 1 siang. Dengan demikian, tidak ada waktu untuk istirahat. Akibatnya, anaknya tidak sekolah Madrasah Diniyah karena sudah terlambat. Selain itu, tidak ada jeda waktu untuk istirahat siang. Padahal, setelah sekolah di Madrasah Diniyah anak-anak di pedesaan masih berangkat mengaji ke mushola menjelang maghrib. Menurut Khoironi, dengan pergeseran jam kerja ASN, pendidikan agama anak harus dikorbankan.

Hal senada disampaikan tokoh masyarakat Arjasa, Muhammad Yunus. Dia menjelaskan, jumlah ASN hanya sekian ribu orang jangan sampai mengorbankan pendidikan madrasah diniyah. Jika hanya masalah kemacetan di jalan,  memang sudah dari dulu sering terjadi, khususnya di daerah Rambipuji dan Mangli. Hal ini tergantung pada individunya dalam mengatur jam keberangkatan.

Sebelumnya, Pemkab Jember mulai melakukan uji coba jadwal hari efektif ASN yang awalnya jam 7 pagi menjadi jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Namun baru beberapa hari uji coba sudah menuai pro dan kontra.  (Hafid)

(71 views)