Pemimpin Tidak Boleh Menutup Diri

HALIMKetua Majelis Ulama Indonesia Jember yang juga sesepuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII Profesor Abdul Halim Subahar menilai, mahasiswa menyampaikan aspirasinya untuk kemaslahatan kabupaten Jember. Sehingga tidak seharusnya bupati menolak menemui mereka.

Hal ini disampaikan Halim usai menjenguk aktifis PMII yang sedang di rawat di rumah sakit, usai melakukan aksi unjuktasa Selasa siang. Menurut Halim, ketika mendengar cerita dari mahasiswa, dirinya menilai sebenarnya aspirasi yang mereka sampaikan cukup baik, demi kemajuan kabupaten Jember. Bupati sebagai pemimpin tidak boleh menutup diri terhadap aspirasi yang disampaikan masyarakat.

Aspirasi yang baik harus segera ditindaklanjuti. Aktifis PMII merupakan calon pemimpin masa depan, sehingga sudah selayaknya mereka dilibatkan dalam diskusi-diskusi. Jika memang ada masalah, Halim yakin akan ada jalan keluar jika pemimpinnya membuka diri untuk berdiskusi dengan elemen masyarakat termasuk mahasiswa.

Sebelumnya ratusan mahasiswa yang tergabung dalam PMII Cabng Jember, Selasa siang menggelar aksi unjukrasa, menuntut bupati segera mengajukan perda RDTR dan membentuk GTRA, yang merupakan salah satu kewajiban pemerinth daerah. Namun sayangnya bupati menolak menemui mahasiswa, yang kemudian menyulut emosi mereka.

Mahasiswa yang mengetahui bupati sedang ada di tempat, mencoba menerobos masuk kantor pemkab. Aksi saling dorong antara mahasiswa dan polisi yang sedang berjaga, mengakibatkan gerbang kantor pemkab ambruk. 2 orang mahasiswa terpaksa dilarikan ke rumah sakit, karena pingsan kekurangan oksigen akibat berdesak-desakan.

(417 views)