Cantik Itu..

Wanita seperti apa yang dapat kita katakan cantik? Jawabannya pasti berbeda bagi setiap orang. Ada yang mengatakan wanita yang cantik itu adalah yang berkulit putih mulus, bertubuh ramping, dengan rambut lurus panjang seperti yang banyak ditampilkan pada iklan-iklan produk perawatan kecantikan di media. Ada yang mengatakan wanita cantik itu justru adalah kebalikan dari kriteria cantik yang tadi saya sebut sering ditampilkan iklan-iklan produk perawatan kecantikan di media. Dan masih banyak kriteria cantik lainnya menurut pihak-pihak yang berbeda. Jadi yang mana kriteria cantik yang benar? Tidak ada jawaban yang pasti, dan sebenarnya kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan mana yang benar dan mana yang salah.

Kenapa?

Bayangkan jika kita sebagai wanita berusaha untuk memenuhi kriteria cantik yang ditetapkan oleh berbagai pihak. We’ll be fooling nobody but ourselves. Karena usaha tersebut tidak akan ada habisnya dan hanya akan melelahkan diri kita sendiri. Pesan dari video di atas benar-benar menunjukkan bahwa akan selalu ada orang di dunia ini yang akan menganggap penampilan fisik kita ‘kurang’, dan pada akhirnya opini yang berarti mengenai penampilan fisik diri kita adalah opini diri kita sendiri.

I’m just going to be blunt about this, menurut saya orang-orang yang dengan mudahnya memberikan komentar negatif mengenai penampilan fisik orang lain adalah orang-orang ‘nggak penting’ yang ‘kurang kerjaan’ dan hidupnya kurang menarik jadi berusaha mencari hiburan dengan ‘mengecilkan’ orang lain. Dan yang sama ‘nggak penting’-nya adalah orang yang berkoar-koar bahwa memakaimakeup untuk mempercantik wajah ataupun menutupi kekurangan pada wajah – misalnya pakai concealer untuk menutupi jerawat, pakai bulu mata tambahan, sulam alis – sama dengan fake alias palsu, nggak real. To me, being real is not about whether you wear more or less or no makeup at all nor whether you are or you’re not covering your flaws. Being real is about making the best out of the beauty that you are.

Sebagai wanita, saya sendiri tidak pernah menganggap serius komentar orang mengenai diri saya, cantik atau tidak menurut mereka. Tentu saja saya mengucapkan terima kasih apabila ada orang yang mengatakan saya cantik. Tapi, bagi saya, pendapat yang menurut saya paling penting mengenai penampilan saya adalah pendapat saya sendiri, dan hampir setiap saat saya bercermin – dengan atau tanpa makeup di wajah – saya berpendapat bahwa saya itu cantik.

Di dalam kepala saya, kriteria cantik yang benar itu adalah kriteria cantik menurut diri saya sendiri, yang sesuai dengan penampilan saya dan hanya berlaku untuk diri saya sendiri pula. Mau kulit saya lagi berjerawat, kering, berminyak, badan saya lagi gemuk, rambut saya lagi acak-acakan, saya akan selalu merasa diri saya cantik.

Sounds narcisstic? People are allowed to think that about me, I can’t change that if they want to think that, tapi menurut saya sikap saya ini lebih baik daripada membenci penampilan diri sendiri dan termakan komentar orang lain yang punya kriteria cantik yang belum tentu sama dengan apa yang saya rasakan. Bahkan saya bangga akan sikap saya. Sikap ini membuat saya lebih nyaman menjadi diri saya sendiri, tidak sibuk berusaha untuk terlihat cantik di mata orang lain. Bagi saya, cantik di mata saya sendiri sudah cukup. Toh, saya nggak mengganggu orang lain dengan menganggap diri saya cantik, mereka pun bebas menganggap diri mereka cantik.

Saya pernah menonton sebuah video yang diciptakan oleh sebuah brand kecantikan yang terinspirasi oleh survei yang mereka lakukan yang menyatakan bahwa persentase wanita yang merasa diri mereka tidak cantik mencapai lebih dari 90%. Sebagian besar wanita tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk merasa diri mereka cantik.

This is heartbreaking.

Menurut saya, semua wanita harus bisa percaya bahwa diri mereka cantik, mencintai penampilan mereka. Ini tidak hanya baik untuk diri mereka, tapi juga generasi muda yang menjadikan mereka role model, seperti adik atau anak mereka nanti.

Tahukah kamu bahwa ibu yang merasa memiliki banyak kekurangan pada penampilan fisik mereka biasanya ‘mewariskan’ perasaan tersebut pada anak mereka? Tanpa sadar, ketika seorang ibu mengeluh soal penampilan diri mereka sendiri di depan anaknya, ibu itu mengajarkan anak untuk lebih memperhatikan kekurangan dibanding dengan kelebihan pada penampilan mereka. Hasilnya, anak akan memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah pula.

That’s not what we want the younger generation to learn from us, do we? I sure don’t want Snow to learn that from me nor from anyone else.

Jadi, mulailah merasa cantik. Mulailah lebih menonjolkan kecantikan yang kita miliki dibanding mengeluhkan sesuatu yang kita anggap kekurangan pada penampilan kita. Tidak perlu menunggu apalagi memusingkan komentar orang mengenai penampilan diri kita, karena kenyataannya kita tidak membutuhkan persetujuan orang lain untuk merasa bahwa diri kita cantik. Believe it and say it to ourselves every moment we feel it, need it and want to say it, “I am beautiful.” Because it’s true, you and I, we are beautiful. Don’t let anyone tell us differently, not even ourselves.

Bagaimana menurut kalian? Apa definisi cantik menurut kalian dan apakah saat ini kalian sudah merasa diri kalian cantik?

source: http://www.kaskus.co.id/thread/569cd6b9507410a93d8b4569/cantik-itu

(431 views)