Audiotorial “PDP Kahyanan dan Penyertaan Modal”

PDP KAHYANGAN

Sudah cukup lama PDP Kahyangan dalam kondisi memprihatinkan, kembang kempis. Ada yang bilang perusahaan milik daerah itu sedang sekarat, hidup segan mati tak hendak. Ada pula yang bilang PDP Kahyangan sudah sedemikian kronisnya sehingga lebih baik dipailitkan. Tetapi mungkin karena dianggap punya nilai historis dan menghidupi ratusan bahkan ribuan pekerja, ada yang bilang PDP Kahyangan sebaiknya diselamatkan.

Maka, dalam waktu dekat, begitu Raperda digedog menjadi Perda, PDP Kahyangan bakal dapat suntikan dana peenyertaan modal, nilainya Rp 2 miliar. Tetapi menurut Dirut PDP Kahyangan, Pak Ir. Sujatmiko, penyertaan modal sebesar itu tidak akan berdampak terhadap penyelamatan PDP Kahyangan. Dikatakannya, dana sebesar Rp 2 miliar hanya cukup untuk perawatan tanaman.

Bisa saja Pak Sujatmiko benar. Sebab, merawat tanaman kopi dan mungkin juga kakao serta karet, di lahan seluas 4 ribu hektar lebih, membutuhkan biaya besar. Belum lagi biaya-biaya lainnya seperti upah pekerja, aktivitas mesin produksi dan sebagainya. Sebaliknya, bisa juga di sana masih ada celah bagi ikhtiar perbaikan.

Begitulah, tarik ulur dan silang pendapat tentang PDP Kahyangan tidak akan pernah berkesudahan jika masalahnya tidak benar-benar jelas. Kata orang pintar, menyelesaikan masalah harus diawali memahami masalah itu sendiri. Karena itu, jika masih berniat memperbaiki PDP Kahyangan, maka langkah yang patut dipertimbangkan adalah mengidentifikasi masalah, membedah masalah. Bisa jadi ketika diidentifikasi masalahnya ternyata bukan pada aspek manajemen, melainkan lebih bersifat politis.

Lebih dari semua itu, yang lebih penting adalah niat dan itikad. Niat dan itikad memperbaiki PDP Kahyangan yang kalau dikelola dengan benar bisa diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kas daerah. PDP Kahyangan, meski dibebani dengan keharusan menjalankan fungsi sosial, tetap harus dikelola secara bisnis, lengkap dengan budaya atau kultur korporasinya. Perusahaan tetap saja perusahaan. Tidak bisa dikelola semaunya, apalagi untuk konsesi politik. (Aga)

(570 views)