Audiotorial: “Pancasila”

Sebelumnya ada yang bilang bangsa makin jauh meninggalkan Pancasila sebagai asas berbangsa dan bernegara. Ada yang beranggapan demokrasi kebablasan, ekonomi dalam praktiknya juga mengarah pada liberalisme, persaingan bebas, subsidi komoditi strategis dikurangi, kalau tidak boleh dibilang dicabut, dan semangat musyawarah mufakat tergerus.

Situasi itu memunculkan wacana yang mencerminkan kerinduan lalu menghendaki agar bangsa ini kembali kepada Pancasila. Tetapi, menurut KH. Hasyim Muzadi, Pancasila belum didukung sistem yang mensyaratkan ideologi hasil kristalisasi nilai bangsa yang beragam ini bisa diimplementasikan sebagai cara pandang dan dasar bernegara serta berbangsa.

Begitulah, dalam pidato “satu kebangsaan” di Universitas Jember, KH. Hasyim Muzadi memandang demokrasi di negeri ini berubah arah dari demokrasi perjuangan menjadi demokrasi perdagangan, hukum bisa berubah sesuai selera penguasa. Malah menurut KH. Hasyim Muzadi, negara sudah dikapling-kapling oleh pihak tertentu.

Bahwa ideologi bakal pudar lalu mati diperihatkan oleh teorisi sosial benama Daniel Bell menyusul ambruknya tembok Berlin dan berakhirnya perang dingin. Daniel menyebutnya sebagai berakhirnya ideologi the end of ideologi. Runtuhnya tembok Berlin dan berakhirnya perang dingin menjadi pertanda bagi kemenangan liberalisme dan kapitalisme. Orientasi berpikir masyarakat berubah dan mengarah pada pemberhalaan material. Manusia hidup semata-mata memikirkan alasan-alasan material dari setiap tindakannya. Hubungan manusia juga bergeser menjadi “siapa memberi keuntungan material kepada siapa”.

Kalau benar bangsa ini merindukan Pancasila, maka tidak ada jalan lain kecuali melaksanakan Pancasila secara utuh yang dengan begitu berarti menjadikan Pancasila sebagai cara pandang serta dasar berbangsa dan bernegara. Menjadikannya sebagai ideologi genuine, ideologi asli bangsa Indonesia, ideologi yang dihasilkan oleh proses peleburan nilai elemen bangsa yang beragam.

Lebih dari semua itu, Pancasila memang menempatkan manusia dalam dua dimensi secara berimbang, yakni sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Ketika yang mengedepan individualismenya, dan yang menjadi kredo atau keyakinan serta sesembahan adalah material serta kekuasaan, maka pada saat yang sama bangsa ini menuju proses pengeringan. Kepekaan sosial tergerus digantikan oleh hubungan atas dasar transaksi kebendaan seperti sinyalemen KH. Hasyim Muzadi. Tetapi tentu saja bangsa ini juga tidak menghendaki Pancasila dijadikan alat mempertahankan kekuasaan atau karena dianggap begitu sakralnya sampai-sampai penafsirnya harus tunggal, yakni penguasa.

(Aga)

(447 views)