Audiotorial “Pilkada”

Jember sepertinya tidak ingin pemilukada tersendat. Beberapa persiapan sudah dilakukan. PPK bahkan sudah dibentuk dan dilantik. Malah kabarnya PPK langsung tancap gas berkoordinasi dengan kepala desa untuk keperluan pembentukan Panitia Pemungutan Suara di tingkat desa.

Pemilu memang hajat besar. Apalagi di Jember yang jumlah pemilihnya mencapai hampir dua juta. Wilayahnya secara georgrafis juga lumayan luas, sehingga persiapan memang harus benar-benar matang. Belum lagi kabarnya ada aturan baru yang harus segera disosialisasikan, terutama kepada penyelenggara dan pengawas pemilu.

Tentu akan banyak yang berharap gerak cepat persiapan pemilu merupakan pertanda positif bahwa perhelatan untuk memilih pemimpin itu lebih dari sekadar formalitas.

Memang benar, pemilu merupakan mekanisme melalui mana rakyat mementukan pemimpin. Tetapi memahami pemilu hanya sebatas sebagai mekanisme atau tata cara akan melahirkan pemahaman dangkal yang mengancam tercerabutnya marwah demokrasi. Pemilu mesti dipahami sebagai instrumen demokrasi dengan segenap nilai yang terkandung di dalamnya, yang oleh karena itu pemilu harus jujur dan adil serta taat azas dan taat aturan. Tidak ada demokrasi tanpa ketertiban. Tidak ada demokrasi tanpa sikap menjunjung tinggi kesepakatan bersama. Tidak ada demokrasi jika pilar-pilar  penyangganya, yakni partai politik, tidak menancap dalam ke bumi aspirasi rakyat.

Begitulah, bisa jadi demokrasi bukan pilihan terbaik. tetapi kalau partai politik mengusung calon pemimpin yang tidak mencerminkan aspirasi rakyat, panitia penyelenggara pemilunya terpapar kepentingan, maka demokrasi akan benar-benar kehilangan marwahnya, kehilangan substansinya. Lebih-lebih kalau rakyatnya nanti memilih berdasarkan NPWP, Nomer Piro Wani Piro…..

(Aga)

(476 views)