Ancaman Hama Terhadap Produktifitas Pertanian

Perubahan iklim yang tidak menentu, membuat petani harus ekstra hati- hati, khususnya untuk mengendalikan hama seperti wereng dan tikus. Bahkan kemarin, Dinas Pertanian melansir, tanaman pertanian seperti padi, jagung, di 16 Kecamatan di Jember rentan terhadap hama. Jika persoalan tersebut tidak segera diatasi, tidak menutup kemungkinan, serangan hama akan semakin luas. Jika memang demikian, bagaimana upaya pemkab mengatasi persoalan itu? Kemudian, bagaimana petani menyikapinya? Lalu, bagaimana upaya PPL mengatasi persoalan tersebut?

Persoalan hama memang selalu menghantui petani di setiap musim tanam. Jika tidak ada perhatian dari pemerintah, bukan tidak mungkin, hasil Pertanian Di Jember akan mengalami penurunan sekitar 40 persen. Untuk itulah di musim kemarau tahap kedua, pemkab harus melakukan pengawalan terhadap petani di lapangan. Demikian Ungkapan Ketua Forum Komunikasi Petani Jember, Jumantoro.

Jumantoro menilai, mau tidak mau pemkab harus segera turun tangan, misalkan memaksimalkan peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Pasalnya, pendampingan dari ppl masih sangat dibutuhkan oleh petani.

Jumantoro menambahkan, berdasarkan pantauannya di lapangan, justru penyebaran hama tidak hanya terjadi di 16 kecamatan, namun penyebarannya cukup merata, seperti hama wereng coklat dan tikus.

Tidak jauh berbeda dengan Jumantoro, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Tanaman Pangan Desa Biting dan Candijati, Joko Suyono mengatakan,  berdasarkan amatannya di lapangan, perubahan cuaca yang cukup ekstrim membuat terjadinya ledakan hama penyakit.

Joko mengaku, khusus di wilayahnya, hama yang paling banyak menyerang adalah wereng coklat dan tongro. Sehingga bukan tidak mungkin, produksi pertanian bisa menurun 40 persen. Jika dibandingkan dengan tahun lalu lanjut Joko, serangan hama penyakit tidak terlalu signifikan, apalagi ditunjang dengan cuaca yang bersahabat. Tahun lalu produksi pertanian di dua desa yang ia bina, mencapai 5 sampai 6 ton. Namun untuk tahun ini jumlah tersebut bisa menurun hingga 3 ton.

Lebih jauh joko menjelaskan, untuk mengantisipasi penyebaran hama, pihaknya sudah memberikan pengarahan dan pendampingan kepada petani, terutama pemilihan bibit serta pemberian racun.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Jember, Hari Wijayadi mengatakan, jika dibandingkan dengan tahun lalu, akibat cuaca yang tidak menentu lahan yang terkena serangan hama meningkat 15 persen.

Hari menambahkan, untuk mengatasi persoalan tersebut, pihaknya akan terus memaksimalkan peran PPL, untuk mendampingi petani di lapangan. Selain itu, Disperta menyarankan kepada petani untuk sementara waktu beralin ke tanaman palawija. Paling tidak, ketika serangan hama semakin meningkat petani tidak mengalami kerugian.

Lebih lanjut hari menjelaskan, ada beberapa petani di wilayah kecamatan sukorambi dan rambipuji yang mengalami gagal panen. Pasalnya, seperti tahun lalu, dua kecamatan tersebut merupakan daerah endemik hama wereng. Sedangkan diwilayah timur, sudah mulai ada beberapa lahan yang terserang tetapi masih belum terlalu menyebar.

(730 views)
Tags: