
Kawan KISS FM.
Komunitas Sudut Kalisat menggelar selamatan dan mengenal lebih dekat tentang keberadaan gumuk yang ada di sekitarnya. Kegiatan yang dikemas dengan tema “Merokat Kenangan, Nyonteng Gumok” tersebut berlangsung di Gumuk Astah, Desa Sumberkalong, Kecamatan Kalisat, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Pendiri Sudut Kalisat RZ Hakim, menjelaskan kegiatan ini menjadi bagian dari Kalisat Tempo Dulu ke-11 untuk menggali kembali tradisi lokal sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat tentang hubungan manusia dengan alam.
Sejumlah praktik budaya diwujudkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, doa keselamatan, pemaknaan ruang, dan kebersamaan masyarakat. Tradisi ini juga menjadi pintu masuk untuk menelusuri sejarah lokal yang tersimpan dalam lanskap gumuk yang akrab disebut gumok oleh warga di wilayah Kalisat.
Menurutnya, gumok tidak hanya memiliki nilai sebagai bentang alam, tetapi juga menyimpan sejarah, pengalaman, dan pengetahuan budaya masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Perubahan penggunaan lahan dan pembangunan menjadi tantangan bagi keberadaan gumok. Kerusakan atau hilangnya gumok tidak hanya berdampak pada kondisi fisik lingkungan, tetapi juga berpotensi menghilangkan ruang yang menyimpan cerita dan pengetahuan masyarakat.
Sementara itu, budayawan Sanggar Umah Wetan, Abdul Rasid, mengatakan nyonteng gumok merupakan tradisi yang perlu dipahami melalui pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang mewarisinya. Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual, tetapi juga mengandung nilai gotong royong, rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, dan kebersamaan.
Ia menilai, tradisi nyonteng gumok mulai jarang dilakukan seiring perubahan sosial dan berkurangnya pewarisan pengetahuan antargenerasi. Karena itu, kegiatan Merokat Kenangan menjadi kesempatan untuk menggali kembali tahapan, makna, serta perubahan dalam praktik budaya tersebut.
Dalam kegiatan ini, masyarakat diajak mengenali rangkaian nyonteng gumok, mulai dari pembersihan lokasi, penyiapan perlengkapan ritual atau uborampe, slametan, pembacaan doa sesuai tradisi setempat, hingga makan bersama.
Iqbal mengatakan, pengetahuan sejarah tidak selalu tersimpan dalam buku atau arsip resmi. Sebagian pengetahuan justru diwariskan melalui cerita lisan dan pengalaman masyarakat yang hidup bersama lingkungan tersebut.
<<<< ULIL
(20 views)