Kasus ISPA di Jember Mulai Melandai, Rumah Sakit Sempat Penuh pada September

Kawan KISS FM.

Kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di Jember mengalami peningkatan cukup tinggi sejak awal September 2026. Kondisi tersebut bahkan sempat membuat ruang rawat inap rumah sakit penuh hingga pasien harus ditangani di ruang UGD dan ruang transit dengan tempat tidur darurat.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia atau IDI Cabang Jember, dr. M. Ali Shodikin, melalui talkshow di KISS FM, Sabtu 3 Oktober, mengatakan peningkatan kasus mulai terlihat sejak awal September dan mencapai kondisi tinggi hingga pertengahan bulan.

Namun, memasuki akhir September hingga awal Oktober, jumlah pasien mulai menunjukkan tren penurunan. Menurut Ali, keluhan yang paling banyak dialami pasien saat puncak kasus ISPA pada September antara lain demam, batuk, pilek, hingga gangguan pernapasan seperti sesak.

Sebagian pasien juga mengalami gangguan pencernaan berupa mual, muntah dan diare yang dapat menyebabkan kekurangan cairan atau dehidrasi.

Ali menjelaskan, kelompok yang paling rentan mengalami ISPA berat adalah anak-anak di bawah usia lima tahun dan kelompok lanjut usia, terutama mereka yang berusia di atas 60 hingga 65 tahun.

Risiko kondisi berat juga meningkat pada orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, seperti diabetes melitus, asma dan penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK.

Selain itu, penyakit noninfeksi seperti jantung, stroke dan hipertensi juga masih ditemukan pada pasien. Namun, peningkatan kasus yang paling menonjol dalam beberapa waktu terakhir adalah infeksi saluran pernapasan akut.

Ali menjelaskan, ISPA dan pneumonia memiliki perbedaan berdasarkan bagian saluran pernapasan yang mengalami infeksi.

Infeksi saluran pernapasan bagian atas umumnya masih bersifat ringan. Sementara infeksi yang sudah menyerang saluran pernapasan bagian bawah cenderung lebih berat karena dapat melibatkan paru-paru sebagai organ pertukaran oksigen.

Gangguan pada paru-paru tersebut dapat menyebabkan kadar oksigen dalam tubuh menurun dan memunculkan gejala sesak napas.

Menurut Ali, penyebab gangguan saluran pernapasan juga beragam, mulai dari virus, bakteri, polutan hingga alergi. Berdasarkan pola peningkatan kasus yang terjadi belakangan ini, ia menduga infeksi yang disebabkan virus, khususnya influenza, menjadi salah satu penyebab yang perlu dicermati.

Ali mengatakan, sebagian besar infeksi saluran pernapasan akibat virus bersifat ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya atau dikenal sebagai self-limiting disease. 

Kasus ISPA ini menjadi perhatian karena peningkatannya terjadi dalam waktu relatif cepat, sehingga sebagian masyarakat mengaitkannya dengan pengalaman pandemi COVID-19. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan penyakit yang sama, karena infeksi saluran pernapasan dapat disebabkan berbagai mikroorganisme maupun faktor lainnya.

Sementara itu, kondisi pelayanan rumah sakit di Jember yang sempat mengalami kepadatan pada awal hingga pertengahan September kini mulai berangsur normal. Ali berharap tren penurunan kasus tersebut terus berlanjut.

Anto/Ulil

(34 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.