Lonjakan Pasien ISPA di Jember, IDI Soroti Memburuknya Kualitas Udara

Dr. M. Ali Shodikin

Kawan KISS FM.

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA di Jember melonjak sejak awal September 2026. Lonjakan pasien tidak hanya terjadi di puskesmas dan klinik, tetapi juga membuat ruang perawatan di sejumlah rumah sakit penuh.

Akibat keterbatasan ruang rawat inap, sebagian pasien terpaksa menunggu di Instalasi Gawat Darurat atau IGD. Bahkan, sejumlah pasien harus mendapatkan perawatan sementara di area IGD.

Pakar Mikrobiologi Medis dan Pediatri Fakultas Kedokteran Universitas Jember sekaligus Ketua IDI Cabang Jember, Dr. M. Ali Shodikin, mengatakan, memburuknya kualitas udara akibat polusi, debu, dan kondisi iklim ekstrem menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sistem pertahanan saluran pernapasan.

Menurutnya, paparan asap dan debu berukuran mikro dapat merusak epitel serta fungsi pembersihan alami saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat memicu gejala seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan hingga sesak napas.

Ali mengatakan, seluruh kelompok usia dapat terdampak ISPA. Namun, balita dan lansia berusia di atas 60 tahun merupakan kelompok yang lebih rentan mengalami gangguan pernapasan berat.

Memasuki September 2026, peningkatan kasus terutama terjadi pada balita. Tidak hanya kasus ringan, jumlah pasien yang mengalami komplikasi hingga membutuhkan rawat inap juga meningkat.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai gejala yang mengarah pada komplikasi, termasuk pada infeksi Influenza A.

Menurut Ali, tanda bahaya yang perlu diperhatikan antara lain demam tinggi yang tidak kunjung turun, dehidrasi seperti mata cekung, bibir kering dan tidak buang air kecil lebih dari enam jam. Tanda lainnya berupa napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, bibir kebiruan hingga penurunan kesadaran. 

Untuk menekan rujukan ke rumah sakit, Ali meminta penguatan pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama atau FKTP, terutama puskesmas dan klinik mandiri.

Penguatan tersebut mencakup kesiapan tenaga medis, ketersediaan obat dan fasilitas penunjang diagnosis, termasuk rapid test influenza dan pemeriksaan PCR.

Menurutnya, diagnosis dan penanganan sejak dini dapat mencegah kasus ISPA berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Di tingkat masyarakat, Ali mengimbau warga yang mengalami gejala flu untuk menggunakan masker dan menerapkan etika batuk atau bersin.

Anak yang mengalami gejala flu ringan juga dianjurkan beristirahat di rumah dan sementara menghindari aktivitas di sekolah, mengaji maupun kegiatan di luar rumah.

Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan tangan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta menghindari paparan asap rokok, pembakaran sampah dan debu.

<<<<Ulil

(17 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.