Hambatan Jalur Distribusi BBM di Jember, Hiswana Migas Dorong Pendirian SPBU Hub hingga Depo BBM

Tanjung Wangi

Kawan KISS FM.

Stok bahan bakar minyak atau BBM jenis Pertalite dan Biosolar di Kabupaten Jember disebut masih aman. Namun, antrean panjang di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir terjadi akibat terganggunya jalur distribusi dari Terminal BBM Tanjungwangi, Banyuwangi.

Ketua DPC Hiswana Migas Besuki, Iqbal Wilda Fardana, Sabtu 12 September mengatakan, pasokan BBM untuk Jember sebenarnya tidak mengalami kekurangan. Kendala terjadi karena proses distribusi dari Banyuwangi menuju Jember membutuhkan waktu cukup lama.

Menurutnya, distribusi dari Tanjungwangi ke Jember membutuhkan waktu sekitar 8 hingga 10 jam. Kondisi tersebut diperparah ketika terjadi kemacetan di jalur Pantura yang menjadi jalur utama pengiriman BBM.

Iqbal menjelaskan, tingginya konsumsi BBM masyarakat Jember juga perlu menjadi perhatian dalam pengaturan prioritas distribusi. Sebab, kebutuhan Jember mencapai sekitar 40 persen dari total kebutuhan yang dilayani Terminal Tanjungwangi.

Sementara itu, Terminal Tanjungwangi juga melayani kebutuhan BBM di tiga daerah lainnya, yakni Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso.

Hiswana Migas menilai gangguan distribusi di jalur Pantura tidak hanya berpotensi memengaruhi pasokan Jember, tetapi juga dapat berdampak terhadap daerah lain yang bergantung pada terminal tersebut.

Selain faktor distribusi, Iqbal menyebut adanya perbedaan harga antara BBM jenis Pertalite dan Pertamax turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Menurutnya, selisih harga yang cukup jauh membuat sebagian pengguna Pertamax beralih menggunakan Pertalite. Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan Pertalite di SPBU.

Untuk mencegah antrean panjang dan gangguan pasokan kembali terjadi, Hiswana Migas mendorong pemerintah mengkaji aktivasi kembali depo BBM di Kabupaten Jember atau membangun konsep SPBU Hub.

Konsep tersebut dinilai dapat menjadi titik transit dan tempat kendaraan tangki BBM untuk standby sebelum menyalurkan pasokan ke sejumlah SPBU di Jember. 

Selain persoalan distribusi, Hiswana Migas juga mendorong pemerataan keberadaan SPBU. Dari total 41 SPBU dan SPBUN yang disebut berada di Jember, masih terdapat sejumlah kecamatan yang belum memiliki SPBU.

Iqbal menyebut Panti, Umbulsari, Ledokombo, dan Jelbuk sebagai wilayah yang belum memiliki SPBU. Menurutnya, idealnya setiap kecamatan memiliki minimal satu SPBU agar distribusi BBM lebih merata.

Sementara di wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi, termasuk kawasan yang menjadi pusat aktivitas perguruan tinggi, penambahan fasilitas pengisian BBM juga dinilai perlu dipertimbangkan karena tingkat konsumsi masyarakat relatif tinggi.

Hiswana Migas berharap pemerintah bersama pihak terkait dapat menyiapkan skema distribusi yang lebih kuat, sehingga persoalan antrean panjang maupun gangguan pasokan BBM di Jember tidak kembali berulang.

<<<< Anto/Ul

(43 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.