Kekeringan Jember, 1.052 KK Terdampak dan 492.500 Liter Air Bersih Telah Didistribusikan

Kawan KISS FM.

BPBD Jember pada Minggu 30 Agustus melaporkan update luasan wilayah di Jember yang terdampak kekeringan air bersih akibat kemarau.

Data terbaru, sebanyak 1.052 kepala keluarga (KK) di delapan kecamatan di Jember, terdampak kekurangan air bersih. Delapan kecamatan tersebut meliputi Pakusari, Kalisat, Silo, Jelbuk, Bangsalsari, Sumbersari, Rambipuji, dan Patrang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember Edy Budi Susilo mengatakan, dari delapan kecamatan itu, terdapat enam desa dan tiga kelurahan yang terdampak, tersebar di tujuh dusun dan tiga lingkungan. Secara keseluruhan, warga terdampak berada di 13 RW dan 20 RT. Hingga 30 Agustus, pemerintah bersama sejumlah pihak telah melakukan 100 kali pengiriman air bersih, dengan total volume mencapai 492.500 liter.

Distribusi air terbanyak dilakukan ke Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari. Di wilayah Dusun Bunder, yang dihuni 125 KK, pengiriman air telah dilakukan sebanyak 30 kali dengan total 150 ribu liter. Berikutnya, wilayah Desa Sumberjeruk, Kecamatan Kalisat.

Kemudian Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, bantuan air bersih telah dikirim sebanyak 13 kali dengan total 65 ribu liter untuk memenuhi kebutuhan 85 KK terdampak.

Sementara di Kecamatan Sumbersari, distribusi dilakukan di dua lokasi. Di Lingkungan Pelinggian, Kelurahan Antirogo, sebanyak 90 KK dan di Lingkungan Krajan Timur, Kelurahan Tegal Gede, sebanyak 40 KK.

Distribusi juga dilakukan di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, sebanyak 120 KK.

Kemudian di Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, sebanyak 75 KK telah menerima lima kali pengiriman air berish. Sedangkan di Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, 90 KK terdampak telah menerima dua kali pengiriman.

Untuk Kecamatan Jelbuk, distribusi air bersih di Desa Panduman telah dihentikan. Sebanyak 102 KK sebelumnya menerima enam kali pengiriman dengan total 30 ribu liter air. Penghentian dilakukan setelah sistem pipanisasi Pamsimas selesai diperbaiki dan telah berfungsi menjangkau warga terdampak. Empat tandon milik BPBD juga telah ditarik dari lokasi pada 24 Agustus 2026.

Selain delapan kecamatan yang saat ini mendapatkan penanganan, BPBD juga melakukan asesmen di Kecamatan Tempurejo dan Mayang. Di Desa Pondokrejo, Kecamatan Tempurejo, hasil asesmen menunjukkan ketersediaan air masih mencukupi. Meski demikian, terdapat potensi 124 KK terdampak apabila kondisi kekeringan berlanjut.

Hal serupa terjadi di Desa Mrawan, Kecamatan Mayang. Ketersediaan air masih terpenuhi dan belum ditemukan warga yang mengalami kekurangan air bersih. Namun, terdapat potensi 239 KK terdampak.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Jember, Zughrinada Wahyudi Hidayat, mengatakan penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui distribusi air bersih. Pemerintah juga mulai menyiapkan langkah jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap bantuan air setiap kali musim kemarau. 

Sementara terkait kondisi cuaca, Zughrinada menyebut musim kemarau tahun ini diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober.

Menurutnya, berdasarkan perkiraan BMKG, puncak kemarau diprediksi terjadi pada September, sedangkan musim kemarau secara bertahap diperkirakan berakhir mulai pertengahan hingga akhir Oktober.

BPBD Jember mengingatkan masyarakat di wilayah rawan kekeringan agar tetap menghemat penggunaan air dan melaporkan apabila mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Pemerintah juga terus memantau perkembangan kondisi di lapangan untuk menentukan kebutuhan distribusi air berikutnya.

<<<<<< /Anto/UL

(53 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.