Kekeringan di Jember Meluas, Lima Kecamatan Terdampak Krisis Air Bersih

Kawan KISS FM.

Dampak musim kemarau di Kabupaten Jember terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat sedikitnya lima kecamatan kini mengalami krisis air bersih, sehingga membutuhkan distribusi air secara berkala untuk memenuhi kebutuhan warga.

Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan, lima wilayah yang terdampak tersebut meliputi Kecamatan Pakusari, Jelbuk, Silo, Sumbersari, dan Kalisat. Sebagian besar warga kesulitan memperoleh air bersih karena sumur mengering, tidak adanya jaringan pipanisasi, hingga sumber air yang tersedia berada cukup jauh dari permukiman.

Di Kecamatan Kalisat, BPBD pada Kamis 6 Agustus, kembali menyalurkan 5.000 liter air bersih ke Dusun Kidul dan Dusun Karangpring, Desa Sumberjeruk. Sebanyak 77 kepala keluarga (KK) terdampak menerima bantuan pada distribusi air bersih ke-14.

Sementara itu, asesmen terbaru di Lingkungan Pelinggian, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, menemukan sedikitnya 50 KK mengalami kesulitan air bersih sejak Juli 2026. Warga mengandalkan air saluran irigasi untuk mandi dan mencuci, bahkan harus berjalan sekitar 600 meter menuju sungai karena sumur-sumur sedalam sekitar 10 meter telah mengering. Di wilayah tersebut juga belum tersedia jaringan pipanisasi.

Kondisi serupa terjadi di Dusun Sumber Tengah, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk. Sebanyak 102 KK membutuhkan pasokan air bersih setelah jaringan PAM tidak berfungsi sejak April 2026. Akibat kemarau, sumur warga ikut mengering sehingga masyarakat harus mengambil air dari sumur bor di balai desa yang berjarak sekitar 2,5 kilometer.

Di Kecamatan Pakusari, sebanyak 125 KK di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, juga terdampak kekeringan. Sebagian sumur mengalami penurunan debit, sedangkan sumur lainnya menghasilkan air keruh bercampur lumpur sehingga tidak layak digunakan.

Sementara itu, Tim TRC BPBD Jember, Firman Arif melaporkan, di Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, sebanyak 85 KK juga mengalami krisis air bersih. Tidak adanya jaringan pipanisasi membuat warga bergantung pada sumur, namun kini telah mengering. Untuk memperoleh air, sebagian warga harus menempuh perjalanan hingga tiga kilometer menuju sungai terdekat. BPBD telah menyalurkan 5.000 liter air bersih serta menyiapkan empat tandon untuk melayani warga terdampak.

Dia mengatakan, pendistribusian air bersih tersebut dilakukan berdasarkan laporan dan status siaga darurat bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan Kabupaten Jember Tahun 2026 yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati. Hingga awal Agustus, BPBD terus melakukan asesmen di sejumlah wilayah dan memperluas distribusi air bersih seiring bertambahnya daerah yang terdampak musim kemarau.

<<<< Ulil

(32 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.