Target Pengolahan WTE di TPA Pakusari, Butuh Pasokan 600 Ton Sampah per Hari

Kawan KISS FM.

Pemerintah Kabupaten Jember mengamankan komitmen investasi senilai Rp1,5 hingga Rp2 triliun untuk membangun fasilitas pengolahan sampah berbasis waste-to-energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik. Komitmen investasi itu diumumkan usai rapat paripurna DPRD Jember, Sabtu 27 Juni lalu.

Pemerintah Kabupaten Jember menargetkan pembangunan fisik fasilitas WTE dimulai pada Agustus hingga September 2026. Sementara operasional penuh ditargetkan pada April 2028.

Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, pembangunan pabrik pengolahan sampah tidak akan menghilangkan mata pencaharian masyarakat sekitar. Menurutnya, fasilitas tersebut justru diperkirakan mampu menyerap sekitar 500 hingga 1.000 tenaga kerja.

Selain pembangunan pabrik, kawasan TPA Pakusari juga direncanakan direvitalisasi menjadi kawasan wisata edukasi lingkungan yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitarnya.

Bupati menjelaskan, fasilitas WTE nantinya akan dikelola melalui Badan Layanan Umum (BLU) agar operasional lebih profesional dan mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Kapasitas pengolahan juga disiapkan untuk menerima sampah dari sejumlah daerah di kawasan Tapal Kuda seperti Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang.

Ia juga memastikan teknologi yang digunakan memenuhi standar pengendalian emisi sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

Pemkab Jember masih menyiapkan sejumlah persyaratan teknis, di antaranya memastikan ketersediaan pasokan sampah minimal 600 ton per hari serta penyelesaian kesiapan lahan.

Sementara itu anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember, Wahyu Prayudi Nugroho meminta Pemerintah Kabupaten Jember mengedepankan kajian teknis dan studi kelayakan secara menyeluruh sebelum merealisasikan proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSA). Kajian tersebut dinilai penting agar proyek bernilai investasi besar itu dapat berjalan sesuai perencanaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya pembangunan PLTSA tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa karena membutuhkan berbagai tahapan persiapan.

Salah satu aspek yang perlu menjadi perhatian adalah karakteristik bahan bakar PLTSA. Ia menyebut teknologi pembangkit listrik berbasis sampah umumnya membutuhkan sampah dengan nilai kalor tinggi, seperti sampah plastik, sehingga diperlukan kepastian mengenai teknologi yang akan diterapkan di Jember, termasuk sistem pemilahan sampah yang akan digunakan.

Selain itu, lanjut Wahyu, pemerintah juga harus menyiapkan lahan, serta berbagai tahapan administrasi dan uji kelayakan yang membutuhkan waktu tidak singkat.

Ia menilai target penyelesaian pembangunan hingga tahap produksi energi dalam waktu sekitar satu setengah tahun, sebagaimana pernah dipaparkan pihak investor, perlu dikaji kembali secara realistis.

<<<<ULIL

(32 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.