
Kawan KISS FM.
Peringatan 30 tahun Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli di Jember diwarnai dengan pembacaan puisi, pertunjukan seni, dan mimbar bebas sebagai ruang penyampaian kritik sosial serta refleksi perjalanan demokrasi Indonesia.
Kegiatan bertajuk “Jejak Luka Demokrasi Indonesia” itu digelar di Kantor DPC PDI Perjuangan Jember, Jalan Supriyadi, Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, Minggu 26 Juli malam. Acara diikuti seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat yang menyampaikan gagasan melalui karya sastra.
Salah satu penampil, seniman Wijaya yang dikenal dengan nama Londo Koplak, membacakan puisi berjudul Pesta Babi. Dalam puisinya, ia mengangkat persoalan pembalakan hutan di Papua serta rencana pengembangan perkebunan sawit untuk kebutuhan bioenergi.
Di penghujung penampilannya, Wijaya menyampaikan pesan solidaritas kepada masyarakat Papua dalam bahasa Jawa. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga semangat dan mendoakan yang terbaik bagi Papua.
Selain Wijaya, pembacaan puisi juga dilakukan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Dr. Ikhwan Setiawan, budayawan Bambang Wahyu, serta Rendra yang akrab disapa Gareng. Karya-karya yang dibawakan mengangkat tema demokrasi, kebudayaan, hingga berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
Panitia juga menyediakan sesi mimbar bebas agar peserta dapat menyampaikan pandangan dan kritik melalui karya sastra maupun penyampaian langsung.
Ketua DPC PDI Perjuangan Jember, Widarto, mengatakan peringatan tersebut tidak hanya bertujuan mengenang Peristiwa Kudatuli, tetapi juga menjadi sarana refleksi agar generasi muda memahami arti penting Peristiwa 27 Juli 1996 dalam perjalanan demokrasi Indonesia menuju era Reformasi.
Menurutnya, kehadiran para seniman dan budayawan diharapkan dapat membuka ruang berekspresi sekaligus memperkuat literasi sejarah di tengah masyarakat.
Melalui peringatan ini, Widarto berharap semangat menjaga demokrasi tetap terpelihara. Ia menilai puisi dan karya seni dapat menjadi media untuk menyuarakan aspirasi masyarakat sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga ruang kebebasan berpendapat.
<<<<<< HAFIT
(30 views)