BPBD Jember Petakan 8 Kecamatan Rawan Kekeringan

Edy Budi Susilo

Kawan KISS FM.

Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai dirasakan di Kabupaten Jember. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, menjadi wilayah pertama yang dilaporkan mengalami dampak berupa mengeringnya sejumlah sumur milik warga.

Mengacu pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BPBD Jember memetakan delapan kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan mulai Juli 2026. Wilayah tersebut dibagi ke dalam tiga tingkat kerawanan, yakni zona merah (potensi tinggi), zona kuning (potensi sedang), dan zona hijau (potensi rendah).

Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, kepada KISS FM, Sabtu 4 Juli menjelaskan terdapat lima kecamatan yang masuk kategori potensi kekeringan tinggi atau zona merah, yakni Kecamatan Tempurejo, Kalisat, Patrang, Rambipuji, dan Sumbersari.

Sementara itu, tiga kecamatan yang masuk kategori potensi kekeringan sedang atau zona kuning meliputi Kecamatan Pakusari, Silo, dan Mayang. Adapun 23 kecamatan lainnya berada pada kategori potensi kekeringan rendah atau zona hijau.

Meski demikian, hingga saat ini BPBD baru menerima laporan dampak kekeringan dari Kecamatan Pakusari, tepatnya di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, yang mulai mengalami krisis air bersih akibat sumur warga mengering.

BPBD Jember kini meningkatkan patroli dan pemantauan di sejumlah wilayah yang dipetakan berpotensi mengalami kekeringan sebagai langkah antisipasi dampak El Nino. Selain menyebabkan krisis air bersih, puncak musim kemarau diperkirakan juga berpotensi memicu gagal panen hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

<<< HAFIT

(58 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.