Wacana Kampus Kelola SPPG, Ahli Pangan UNEJ Nilai Sebaiknya Jadi Mitra Ilmiah MBG

Kawan KISS FM.

Wacana program satu kampus satu SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) kembali mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Kali ini, ahli pangan Universitas Jember (UNEJ), Dr. Nurhayati, S.TP., M.Si., kepada KISS FM, Rabu 24 Juni menegaskan bahwa perguruan tinggi dan SPPG memiliki fungsi yang berbeda sehingga tidak tepat jika satuan pelayanan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari kampus.

Menurut Nurhayati, perguruan tinggi merupakan pilar pembangunan bangsa yang bertugas mencetak sumber daya manusia unggul, menghasilkan inovasi melalui penelitian, serta menjalankan pengabdian kepada masyarakat. Sementara SPPG merupakan unit pelaksana teknis di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) yang bertanggung jawab memproduksi dan mendistribusikan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menjelaskan, kontribusi perguruan tinggi terhadap program MBG dapat diwujudkan melalui pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Pada aspek pendidikan, kampus berperan menyiapkan lulusan yang kompeten dan siap terlibat dalam pengelolaan program pemenuhan gizi masyarakat.

Menurutnya, lulusan dari berbagai program studi yang berkaitan dengan pangan dan kesehatan, seperti gizi, kesehatan masyarakat, maupun teknologi hasil pertanian, dapat menjadi sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam operasional SPPG.

Selain mencetak tenaga ahli, kampus juga memiliki peran strategis melalui penelitian dan pengembangan. Nurhayati menilai berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan MBG, termasuk kasus dugaan keracunan makanan yang sempat terjadi di sejumlah daerah, dapat menjadi bahan kajian ilmiah bagi perguruan tinggi.

Melalui riset, akademisi dapat mengidentifikasi titik kritis penyebab kontaminasi pangan, menyusun langkah pencegahan, hingga merumuskan standar keamanan pangan yang lebih baik untuk diterapkan dalam operasional SPPG. Hasilnya, bisa memberikan solusi berbasis ilmiah agar kejadian serupa tidak terulang.

Nurhayati juga mencontohkan penelitian yang berfokus pada teknologi pengolahan pangan untuk memperpanjang masa simpan makanan bergizi tanpa menggunakan bahan pengawet. Inovasi tersebut dinilai dapat membantu menjaga kualitas makanan yang diproduksi dalam program MBG.

Sementara pada aspek pengabdian kepada masyarakat, dosen dan peneliti dapat memberikan pendampingan, pelatihan, maupun penyuluhan kepada tenaga teknis dan ahli gizi yang bertugas di SPPG. Materi yang diberikan dapat mencakup sanitasi pangan, keamanan makanan, inovasi menu, hingga upaya pencegahan keracunan pangan.

Karena itu, Nurhayati berpandangan bahwa jika pemerintah tetap ingin melibatkan kampus dalam program SPPG, maka posisi satuan pelayanan tersebut harus berdiri terpisah dari struktur utama perguruan tinggi. Dengan demikian, kampus tetap dapat berkonsentrasi menjalankan tri dharma tanpa kehilangan fokus akademiknya.

Sebelumnya, dosen Fakultas Hukum UNEJ sekaligus Ketua Dewan Pakar ICMI Jember, Dr. Aries Harianto, juga mengingatkan agar perguruan tinggi tetap menjaga marwahnya sebagai lembaga pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, kampus lebih tepat berperan sebagai mitra ilmiah dan pemberi rekomendasi kebijakan dibanding menjadi operator program layanan makanan.

<<<< ULIL

(44 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.