
Kawan KISS FM.
Sebanyak 1.134 relawan mengikuti aksi kolosal peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar World Cleanup Day (WCD) Indonesia Core Team Jember di Lapangan Jelbuk, Kabupaten Jember, pada 6–7 Juni 2026. Dari kegiatan tersebut, relawan berhasil mengumpulkan sekitar 1,3 ton sampah.
Aksi berskala besar itu digelar sebagai respons terhadap persoalan kelebihan kapasitas atau overcapacity di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, sekaligus mendukung Surat Edaran Bupati Jember tentang kebijakan pengelolaan sampah secara mandiri.
Sekretaris WCD Indonesia Core Team Jember, Harry Bagoes Prasetyo, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membangun kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Dalam kegiatan tersebut, seluruh elemen di Jember bersatu untuk membangun kesadaran pengelolaan sampah dari sumbernya. Kolaborasi masif ini adalah komitmen edukatif yang berkelanjutan.
Peserta yang terlibat berasal dari berbagai kalangan, mulai relawan perorangan, pelajar, mahasiswa, komunitas lingkungan, lembaga pendidikan, pemerintah desa, jajaran Muspika, organisasi perangkat daerah (OPD), hingga masyarakat sekitar Kecamatan Jelbuk.
Kegiatan dikemas dalam konsep Happy Camp. Pada hari pertama, Sabtu 6 Juni 2026, agenda diawali dengan registrasi peserta dan penataan pelaku UMKM.
Malam harinya digelar Focus Group Discussion (FGD) tentang pengelolaan sampah yang menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Cabang Dinas Kehutanan Jawa Timur, Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Perikanan, serta anggota Komisi D DPRD Jember.
Puncak kegiatan berlangsung Minggu 7 Juni dengan apel Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dipimpin Pelaksana Tugas Camat Jelbuk, Pairi.
Apel turut dihadiri Penjabat Kepala Desa Jelbuk Hendro Handoko, jajaran Muspika Kecamatan Jelbuk, serta anggota Komisi D DPRD Jember Intan Permata Sari.
Usai apel, ribuan peserta langsung melakukan aksi bersih-bersih lingkungan dan pemilahan sampah di kawasan sekitar lapangan. Selain itu, relawan juga melakukan penanaman pohon penghijauan dan penebaran benih ikan di sungai yang berada di sisi timur lapangan sebagai bagian dari upaya konservasi lingkungan.
Panitia menerapkan prinsip zero waste selama kegiatan berlangsung. Seluruh peserta diwajibkan membawa wadah makan dan minum isi ulang guna mengurangi timbulan sampah baru selama acara.
Berdasarkan hasil pendataan panitia, total sampah yang terkumpul mencapai 1,3 ton. Komposisinya terdiri atas sekitar 60 persen sampah organik, 30 persen sampah anorganik, dan 10 persen sampah residu.
Harry berharap data tersebut dapat menjadi pengingat pentingnya budaya memilah sampah sejak dari rumah. Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik dapat membantu mengurangi beban TPA sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan dari dampak perubahan iklim dan pemanasan global.
Kesadaran memilah sampah dari sumbernya menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi beban TPA dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
<<<<< Ulil
(201 views)