Ahli Pangan Unej Minta Keamanan Pangan Jadi Prioritas Evaluasi Program MBG

Kawan KISS FM.

Aspek keamanan pangan dinilai menjadi persoalan paling mendesak yang harus dibenahi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu menyusul masih munculnya sejumlah kasus keracunan makanan yang terjadi di berbagai daerah sejak program tersebut berjalan.

Ahli Pangan Universitas Jember, Dr. Nurhayati, S.TP., M.Si., mengatakan setiap kasus keracunan yang terjadi harus diinvestigasi secara menyeluruh untuk mengetahui sumber penyebabnya. Menurutnya, bahan pangan sumber protein seperti daging, ikan, dan susu menjadi komoditas yang paling rentan mengalami kontaminasi apabila tidak ditangani dengan baik.

Nurhayati menjelaskan bahwa bahan pangan berprotein tinggi sangat mudah menjadi media pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan.

Karena itu, menurutnya, evaluasi MBG harus difokuskan pada penguatan sistem keamanan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pengolahan makanan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG.

Nurhayati menegaskan, keamanan pangan harus dikawal dari tiga potensi bahaya utama, yakni bahaya fisik seperti benda asing yang dapat mencemari makanan, bahaya kimia berupa residu pestisida yang melebihi ambang batas, serta bahaya biologis seperti bakteri dan mikroorganisme penyebab penyakit.

Selain keamanan pangan, proses pengolahan makanan juga harus mengikuti standar operasional yang ketat melalui penerapan prosedur pengendalian mutu dan keamanan pangan secara konsisten.

Menurutnya, karena tujuan program MBG bukan sekadar mengenyangkan tetapi juga meningkatkan kualitas gizi, maka pengelolaan bahan pangan berisiko tinggi perlu mendapatkan perhatian khusus.

Nurhayati mencontohkan daging ayam, ikan, dan susu sebagai bahan yang mudah rusak dan rentan terkontaminasi apabila proses penanganan dan pengolahannya tidak dilakukan sesuai standar.

Karena itu, ia menyarankan agar pengelolaan bahan pangan tertentu tidak seluruhnya dibebankan kepada dapur MBG. Untuk produk yang membutuhkan teknologi dan pengawasan ketat, seperti susu sterilisasi maupun produk olahan ikan dalam jumlah besar, pemerintah dapat menggandeng industri pangan yang telah memiliki standar keamanan dan perizinan lengkap.

Menurutnya, skema kerja sama dengan industri nasional akan lebih efektif dan efisien dibandingkan memaksa setiap dapur MBG melakukan investasi peralatan mahal untuk memenuhi seluruh standar pengolahan pangan.

Selain mengurangi risiko keracunan, model tersebut juga dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas karena dapat mendorong pertumbuhan industri nasional sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Nurhayati menegaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjamin makanan yang diberikan benar-benar aman, bergizi, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

Anto.

(83 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.