
Kawan KISS FM.
Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) di sejumlah wilayah Kabupaten Jember pada musim tanam kedua di tahun 2026 saat ini, semakin meresahkan petani. Selain hama tikus, petani padi juga menghadapi serangan wereng dan burung yang dinilai semakin sulit dikendalikan akibat cuaca yang tidak menentu.
Ketua Asosiasi Petani Pangan Indonesia (APPI), Jumantoro, Sabtu 23 Mei mengatakan, serangan hama saat ini terjadi di sejumlah kawasan, seperti Kecamatan Jenggawah, Pakusari, hingga Sumbersari. Kondisi tersebut diperparah dengan hujan yang masih turun meski sebelumnya diprediksi memasuki musim kemarau.
Menurutnya, situasi itu membuat petani mengalami tekanan berat karena selain serangan hama, mereka juga dibebani kenaikan harga pupuk nonsubsidi yang terus meningkat.
Ia menilai, upaya mewujudkan swasembada pangan tidak cukup hanya melalui slogan atau retorika. Pemerintah, kata dia, harus menghadirkan kebijakan nyata yang berpihak kepada petani, khususnya dalam pengendalian hama dan stabilitas sarana produksi pertanian.
Apalagi saat ini, kondisi cuaca tidak stabil dan meningkatnya biaya produksi pertanian.
Dia juga mengungkapkan, sebagian petani di kawasan Jember Selatan dan Jember Barat bahkan mulai nekat menggunakan aliran listrik untuk membasmi tikus di area persawahan. Cara tersebut dipilih karena racun tikus dinilai sudah tidak lagi efektif.
Menurutnya, petani membawa perangkat setrum ke tengah sawah demi mengurangi serangan tikus yang terus mengancam hasil panen, meskipun metode tersebut sebenarnya dilarang pemerintah karena berbahaya.
Ulil.
(40 views)