
Kerugian petani pada musim tembakau berdampak pada sebagian siswa sekolah Islam Bustanul Ulum (IBU) Pakusari yang berasal dari desa-desa pinggiran Jember karena uang saku menjadi berkurang. Siswa yang biasanya membawa motor sendiri ke sekolah, memilih menumpang bus gratis milik sekolah. Hal ini menyebabkan bus angkutan siswa menjadi over kapasitas.
Hal ini diketahui langsung Pengasuh Ponpes yang juga Ketua Yayasan IBU Pakusari, KH. Muhammad Hafidzi Kholis, saat berpapasan langsung di Jalan Raya Desa Sempolan, Kecamatan Silo.
Hafidzi menjelaskan, saat berpapasan, ia melihat bus sekolahnya agak miring. Karena itu, ia mengejar dan menghentikan bus yang terlihat miring tersebut yang ternyata muatannya melebihi kapasitas. Bus yang biasanya maksimum berisi 55 siswa, terisis lebih 90 siswa.
Sebagai anggota dewan, pihaknya mengorek keterangan orang tua siswa karena tidak biasanya ikut bus gratis. Menurutnya, orang tua siswa berkeluh kesah tengah kesulitan ekonomi setelah merugi tanam tembakau. Akibat kerugian itu, ada yang harus menjual barang-barang berharga, bahkan kendaraan hingga rumah. Karena itu, siswanya memilih ikut bus sekolah IBU.
Atas keluhan tersebut, tambah Hafidzi, pihaknya harus menambah armada bus meski harus kredit supaya bisa menampung siswa ke sekolah secara aman.
Sebelumnya, akibat cuaca buruk dan tidak menentu, banyak petani tembakau di sejumlah kecamatan di Kabupaten Jember merugi. Bahkan, petani harus menanam tembakau hingga 3 kali karena tanaman tembakaunya mati. Saat tanaman hidup hingga masa panen, menghadapi musim penghujan membuat kualitas tembakau menyusut dan tidak laku. (Hafit)
(223 views)