
Para petani di kawasan Jember saat ini mengeluhkan sulitnya irigasi air akibat musim kemarau. Kekurangan air juga memicu tingginya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Ketua Asosiasi Petani Pangan Jawa Timur (APPI Jatim) Jumantoro mengatakan, per hari ini, Selasa 16 Juli, harga padi kering panen di tingkat petani terhitung masih di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sebesar Rp 7.000 sampai Rp 7.500 per kilogram. Kendati demikian, harga jagung justru terjun bebas antara Rp 1.800 untuk panen gelondong dan Rp 3.800 untuk jagung pipil.
Rendahnya harga jagung tersebut membuat sejumlah petani tidak diuntungkan. Sebab, sebagian petani yang memilih menanam jagung di musim kemarau saat ini, berharap bisa mendapatkan harga yang stabil, minimal Rp 3.000 untuk gelondong dan Rp 6.000 per kg untuk jagung pipil.
Kendati demikian, meski harga padi terhitung di atas HPP, namun akibat cuaca panas saat ini, produktivitas panen diperkirakan turun hingga 50 persen. Bahkan sejumlah petani yang padinya terserang hama burung, memilih untuk dipangkas sebagai pakan ternak.
Serangan hama burung tersebut, katanya, banyak terjadi di wilayah Gumukmas dan Bangsalsari. Petani sampai memasang jaring di bagian atas tanaman padi untuk meminimalisir serangan burung. Sementara di daerah lain, juga banyak yang mengeluhkan tanaman padinya kering tidak bisa teraliri air irigasi.
Ulil.
(1.057 views)