Minum kopi merupakan aktivitas yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Namun, minum kopi dengan cara yang tepat, unik, dan menyehatkan merupakan hal yang cukup langka.
Keunikan cara menikmati kopi, dapat dirasakan saat meminum kopi di Kedai Kopai Osing, yang terletak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Menyeruput kopi di Kedai Kopai Osing, akan dibawa ke suasana lampau.
Suasana saat masyarakat Osing menjalani kehidupan secara alami dan tradisional. Saat masuk Kedai Kopai Osing, para penikmat kopi akan disuguhi lantunan musik perpaduan suara penumbuk padi, penyangrai kopi, dan beberapa alat musik tradisional lain. Penikmat kopi juga disuguhi penampilan tari barong oleh Komunitas Sanggar Genjah Arum.
Tak cukup sampai di situ, para penikmat kopi akan dimanja dengan rumah adat Osing yang masih asli.
Rumah adat Osing yang terbuat dari kayu itu, dipenuhi dengan ornamen tradisional. Mulai meja, lemari, hingga lampu yang menggantung.
Masuk kebangunan tempat kopi diracik, penikmat kopi akan mendapatkan kursi dan meja, di atasnya terdapat kue tradisional. Mulai kucur, pisang goreng, kacang rebus, dan beberapa toples kue kering tradisional. Di ruang ini juga ada perpustakaan dengan beragam koleksi buku tentang budaya.
Jajanan tradisional tersebut dimasak langsung di lokasi. Para penikmat kopi bisa menyeruput kopi sambil dimanjakan tarian khas Banyuwangi.
Pemilik Kedai Kopai Osing, Iwan Subekti mengatakan, upaya membangun Kedai Kopai Osing bukan usaha yang mudah. Butuh waktu 15 sampai 20 tahun mengumpulkan rumah adat suku Osing yang masih asli.
Kesulitan mendapatkan rumah adat Osing, disebabkan rumah-rumah yang menjadi ciri khas masyarakat Osing tersebut mulai ditinggalkan pemiliknya. Tak sedikit rumah Osing yang masih asli dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya, sehingga rusak.
“Rumah Osing di Banyuwangi banyak yang hilang, karena pemiliknya banyak yang tidak peduli,” kata Iwan, Sabtu, 10 Desember 2022.
Rasa memiliki terhadap rumah khas osing itu, membuat pria peracik kopi kelas internasional itu semakin semangat untuk mengumpulkan rumah khas Osing. Usahanya berhasil, kini sudah ada beberapa rumah khas Osing yang berdiri di Kedai Kopai Osing. Usia bangunan itu beragam, ada yang 100 tahun.
Iwan tidak hanya bisa menghadirkan kembali budaya arsitektur rumah Osing, tetapi juga ragam budayanya. Mulai budaya menyangrai dan meracik kopi, menumbuk padi, dan spiritual masyarakat Osing.
Budaya menyangrai kopi, masyarakat Osing menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu. Api diatur. Sementara biji kopi yang sudah dipilih diletakkan di atas wajah yang terbuat dari tembikar. Kopi diaduk secara terus menerus hingga dinyatakan siap diolah menjadi bubuk.
Kopi kemudian dihaluskan hingga benar-benar halus. Selanjutnya, bubuk kopi tersebut diseduh dengan cara yang unik.
Bubuk kopi diseduh dengan air panas yang sudah didiamkan hingga memiliki suhu kurang lebih 80 derajat celcius. Diamkan sejenak, kemudian baru diaduk dengan teknik berlawanan arah jarum jam.
“Kopi yang diaduk searah jarum jam dengan yang berlawanan rasanya akan berbeda. Setelah itu didiamkan,” tambah Iwan.
Sebagai peracik kopi yang sudah mendatangi beberapa negara, Iwan tidak pernah mencampur kopi dengan gula. Hal itu dilakukan agar para penikmat kopi bisa merasakan manfaat kopi yang sebenarnya. Selain nikmat, juga menyehatkan.
Kopi menyehatkan bukan sekadar opini, tetapi sudah banyak hasil penelitian yang menyebutkan. Kopi menyehatkan menambah panjang daftar manfaat kesehatan dari kopi.
Berdasarkan hasil penelitian, kopi dapat menyembuhkan diabetes, penyakit hati, kanker prostat, hingga sakit punggung.
Penelitian yang berbeda menunjukkan, kopi berdampak bagi saraf, dengan menekan inflamasi pada otak. Hal itu berfungsi mencegah Parkinson dan Alzheimer.
Bahkan,penelitian tentang manfaat kopi sudah dimulai sejak tahun 1976.
Studi Profesional Kesehatan oleh Universitas Harvard, yang memulai tahun 1986 membuahkan hasil penelitian tentang manfaat kopi. Dalam penelitian tersebut tidak ditemukan adanya hubungan kopi dengan peningkatan risiko kematian.
Kendati demikian, Iwan memberikan tips agar penikmat kopi mendapatkan manfaat kesehatan dari minum kopi. Salah satunya, jangan pernah dicampur dengan gula.
“Kopi benar-benar menyehatkan, saya sudah membuktikan. Jadi jangan pernah takut minum kopi. Yang bahaya adalah kopi yang dicampur gula, karena gula itu yang berbahaya,” jelas Iwan.
Setelah para penikmat kopi disuguhi kopi menyehatkan di Kedai Kopai Osing.
Selanjutnya,giliran jiwa para penikmat kopi yang dimanjakan.Jiwa para penikmat kopi di Kedai Kopai Osing dimanjakan dengan tarian dan ajaran para leluhur masyarakat Osing.
Tarian mengandung spiritual, termasuk tari gandrung, khas Banyuwangi. Setiap Gerakan dalam tari gandrung mengandung doa kepada sang pencipta.
Menurut Budayawan,Ekanu, masyarakat Osing merupakan masyarakat asli Jawa yang terpengaruh oleh ajaran Hindu. Meski demikian, Ekanu dengan tegas menolak paradigma bahwa santet adalah identik dengan pembunuhan.
Lantas,Ekanu kemudian menjelaskan santet itu dengan penampilan sebuah tarian jaran goyang. Tarian yang mengisahkan cinta seorang laki-laki yang ditolak oleh perempuan idamannya.
Karena ditolak, sang pria kemudian melantunkan mantra atau doa agar perempuan pujaan hatinya luluh. Benar saja, dalam hitungan detik saja, perempuan itu jatuh cinta kepada sang lelaki.
Namun, kini giliran sang laki-laki yang menolak cinta perempuan itu. Namun, itu tidak berlangsung lama. Mereka kemudian Bersatu dalam cinta.
“Mantera adalah doa yang menimbulkan efek ketenangan. Termasuk Gerakan tari juga mendatangkan rasa tenang,” kata Ekanu.
Hal yang disampaikan Ekanu memang benar. Para penikmat kopi di Kedai Kopai Osing dibuat tenang. Terlihat dari raut wajah mereka saat menikmati tarian yang disuguhkan tepat di depan mereka.
Ketenangan jiwa dengan menyaksikan tarian tradisional itu diakui oleh Siti Rahmawati,analis senior Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur. Siti mengatakan,selama berada di kedai Kopai Osing, bukan hanya disuguhi kopi yang nikmat dan menyehatkan, tetapi jiwanya juga dimanjakan.
“Ini sangat luar biasa. Kami bukan hanya mendapatkan kopi yang nikmat. Tetapi jiwa kita juga dimanjakan,” kata Rahmawati.
Kedai Kopai Osing akan selalu hadir dengan konsep adat tradisional masyarakat Osing, di tengah gempuran teknologi yang semakin modern. Iwan berharap, kopi racikannya bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat, agar semua bisa merasakan manfaatnya.
(1.013 views)