Dari Jember Ke Dunia Dengan Minyak Atsiri

Andriyono di tempat penyulingan sambil memegang produk minyak atsiri (Kiss FM Jember/Rusdi)

Andriyono di tempat penyulingan sambil memegang produk minyak atsiri (Kiss FM Jember/Rusdi)

Beberapa pekerja terlihat sibuk menimbang daun sirih yang disetor perambah. setelah dibayar beberapa perambah pulang dengan senyum bahagia di wajahnya. Di sudut lain juga terlihat aktifitas beberapa pekerja mengeringkan daun sirih. Bunyi-bunyian yang berasal dari proses penyulingan menandakan kesibukan yang tak pernah henti di rumah produksi minyak atsiri di Desa Kemiri Kecamatan Panti. produknya menembus manca negara, india dan malaysia.

siapa sangka yang berada di balik proses produksi itu seorang penyandang tunadaksa. Namanya Andriyono. Dulu Andriyono sempat khawatir, karena keterbatasannya dia tidak bakal memperoleh pekerjaan.  Pekerjaan sebagai tukang tambal ban pernah dijalaninya. Sekarang Andriyono malah bisa membuka lapangan kerja warga sekitar. androyono menampung daun sirih yang dibudidayakan warga.

Kisahnya diawali dengan berselancar di dunia maya. Andriyono mendapati bahan bacaan dari halaman situs (website)  Universitas Gajah Mada (UGM). Bahan bacaan tentang produksi asap cair dari limbah tempurung kelapa. Asap cair limbah tempurung kelapa adalah pengawet alternatif yang bisa menggantikan pengawet kimiawi.

Kata andriyono, proses pembuatan pengawet berbahan dasar tempurung kelapa bisa dibilang mudah dan sederhana. Tempurung kelapa dibakar. Asapnya ditampung ke dalam beberapa tabung dan kemudian berproses menjadi asap cair.

Andriyono mencoba mengawali memasarkan produk asap air yang berfungsi sebagai pengawet kepada nelayan puger. Tetapi gagal, karena kemasannya tidak menarik. selain itu, karena produk itu belum berizin.

Andriyono melanjutkan kisahnya. Dia menuturkan, produk asap cair Andriyono itu mulai laku di pasaran tahun 2011. Yang pertama membeli adalah  peternak ayam. asap cair itu dimanfaatkan untuk mengurangi polusi bau. Sekarang bukan cuma peternak ayam yang memanfaatkan asap cair produksi andriyono. beberapa pengusaha ikan sarden kemasan juga ikut berlangganan.

Dengan berbagai inovasi, usaha penyulingan andriyono mampu bertahan. bahkan disaat pandemi COVID-19, Andriyono justru mengembangkan usaha penyulingan yang dirintisnya sejak  tahun 2009. Saat awal pandemi COVID-19, Andriyono sempat kewalahan memenuhi kebutuhan pasar, sehingga harus mengambil dari penyuling lain di Semarang.

Kata Andriyono, minyak atsiri buatannya sudah  menembus pasar India dan Malaysia. Untuk pasar Indonesia biasanya dibeli oleh pengepul untuk didistribusikan ke sejumlah pabrik seperti unilever dan mustika ratu sebagai bahan baku kosmetik. Harganya menggiurkan. Empat juta rupiah per dua kilo.

Setiap hari Andriyono mampu memproduksi satu setengah sampai dua kilo gram minyak atsiri. di masa pandemi, permintaan pasar meningkat tajam, hingga dirinya harus mencari bahan baku ke Banyuwangi dan Lumajang, untuk memenuhi permintaan pasar.

Penghasilan yang cukup tinggi tidak membuat Andriyono lupa diri. Warga sekitar dilibatkannya dalam proses produksi. Setidaknya 11 orang dipekerjakan  di penyulingan. 20 orang yang diberdayakan sebagai pencari bahan baku.

Arfi adalah salah satu warga yang dipekerjakan Andriyono. Arfi mengaku sudah bekerja  di penyulingan milik Andriyono selama 11 tahun. Arfi bersyukur dari pekerjaan yang ditekuninya mampu memenuhi kebutuhan hidup  keluarganya.

Pandemi membuat Andriyono, arfan , dan sejawat Andriyono yang lain teruji. Mesin-mesin penyulingan terus terdengar di tengah pandemi COVID 19 yang belum diketahui kapan melandai.

 

(1.867 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.