Sejak terjadinya pandemi Covid-19, beberapa negara di dunia melakukan lockdown termasuk diantaranya Nigeria. Akibat kebijakan tersebeut Ketua LP2M Universitas Jember yang juga salahsatu pakar tepung mocaf Prof. Achmad Subagio, tertahan sejak pertengahan Maret lalu di kota Benin Nigeria.
Melalui webinar LP2M bersama Keluarga Alumni Universitas Jember (Kauje) Subagio menceritakan, pemerintah Nigeria memberlakukan lockdown sejak tanggal 21 Maret lalu. Pihak perusahaaan yang mengundangnya sudah berupaya mengurus kepulangannya ke tanah air, namun gagal karena tidak ada satupun maskapai yang melayani penerbangan internasional.
Upaya patungan untuk mencarter pesawat agar semua ekspatriat di Nigeria bisa pulang ke negara masing-masing juga sulit dilakukan, karena tidak semua ekspatriat mampu membayar biaya tiket yang terbilang sangat mahal. Jika dirata-rata menurut Subagio per orang harus membayar sekitar 80 juta rupiah.
Subagio berharap pandemi Covid-19 ini bisa segera berakhir, agar dirinya juga bisa segera pulang dan berlebaran bersama keluarga. Apalagi situasi keamanan kota Benin sebagai penghasil pertanian di Nigeria saat ini juga kurang kondusif, akibat bentrok antara penduduk lokal dengan suku Fulani, suku nomaden yang menggembala ternak tanpa mengenal batas negara.
Sebelumnya prof. Subagio yang juga merupakan guru besar fakultas tehnologi hasil pertanian Unej ini berangkat ke Nigeria tanggal 15 Maret lalu, untuk memberikan konsultasi terkait tehnologi pangan kepada perusahaan yang mengundangnya. Selama di Benin perusahaan memberikan fasilitas penginapan yang cukup bagus dengan penerapan protokol covid-19 sesuai standart internasional. Bahkan untuk menjaga keamanannya, selain penginapan di jaga ketat oleh polisi, kemanapun dirinya pergi termasuk ke kebun sekalipun, selalu dibawah pengawalan polisi.
(1.072 views)