Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah atau STDI Imam Syafii Jember, Muhammad Arifin, menepis isu yang menyebut STDI Imam Syafi’i tertutup dan intoleran.
Kepada sejumlah wartawan Arifin menjelaskan, sejak beberapa tahun lalu, Yayasan sudah membuat kebijakan yang membolehkan para mahasiswa tinggal di luar Asrama. Dengan demikian, kemanfaatan STDI Jember dari segi ekonomi terhadap masyarakat, terlihat dengan berdirinya sejumlah rumah kos, dan warung makan di Lingkungan Gladak Pakem. Arifin juga memastikan, tidak satupun mahasiswanya yang berusaha mempengaruhi paham keislaman yang sudah diyakini masyarakat sekitar STDI.
Sementara, isu tentang Buletin STDI Imam Syafi’i yang menyebut kedudukan kiai sama dengan dukun, merupakan buletin yang terbit tahun 2013 lalu, dan sudah tidak ada lagi persoalan usai dimediasi di Kantor Bangkesbangpol tahun 2013.
Meski Arifin mengakui masih ada sejumlah warga Lingkungan Gladak Pakem yang belum menerima keberadaan STDI. Namun, Arifin membantah telah memanfaatkan tanda tangan warga penerima bantuan sosial, untuk pengurusan surat ijin operasional berdirinya SMP Imam Syafii.
Diberitakan sebelumnya, ratusan massa usai salat Jumat di Masjid Jami Al Baitul Amin, melakukan aksi unjuk rasa di Depan Kantor Pemkab Jember. Mereka menuntut Pemkab membekukan sementara lembaga pendidikan STDI, karena dinilai mengajarkan paham yang meresahkan masyarakat dan berpotensi menimbulkan konflik horizontal.
(2.844 views)
