Seknas Jokowi menilai 3 tahun kinerja Faida-Mukid semakin absurb dan jauh dariĀ harapan masyarakat. Bahkan tingginya penderita stunting atau gangguan pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi di Jember, bertolak belakang dengan progam yang sedang gencar dilakukan Presiden Joko Widodo.
Koordinator Seknas Jokowi Jember Sapto Raharjo mengatakan, tingginya penderita stunting di Kabupaten Jember hingga mencapai 60 ribu jiwa, sangat memprihatinkan. Indonesia yang harusnya mendapatkan bonus generasi milenia, di Kabupaten Jember justru masih harus berkutat dengan generasi stunting.
Hal ini menurut Sapto, bertentangan dengan progam Presiden Jokowi selama ini yang tengah gencar melakukan pemberantasan stunting. Lebih memprihatinkan lagi Bupati beserta beberapa pejabat dilingkungan Pemkab Jember, justru melakukan studi banding tata Kota ke Belanda, yang tentunya menghabiskan anggaran tidak sedikit. Padahal anggaran tersebut mestinya bisa digunakan untuk mengatasi kasus stunting di Jember.
Lebih jauh Sapto menyebutkan, Bupati tidak perlu jauh-jauh ke Belanda jika hanya ingin studi banding tata kota. Walikota Surabaya Tri Risma Harini atau Walikota Bandung Ridwan Kamil, dinilai sudah cukup berhasil melakukan penataan kota masing-masing.
Diberitakan sebelumnya menurut Direktur Ngo Prakarsa Madekhan, berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan Dinas Kesehatan, jumlah penderita stunting di Jember mencapai 60 ribu jiwa, atau tertinggi kelima di Jawa Timur. Setelah dilakukan sirvey ternyata tingginya angka stunting di Jember akibat Posyandu yang kurang memadai, serta kurangnya perhatian dari Pemerintah Desa maupun Pemerintah Daerah.
(1.978 views)