Setelah menunggu hampir dua tahun untuk menjalani operasi gratis, Ariel warga desa Tugusari Bangsalsari penderita hydrocepalus akhirnya meninggal 12 hari yang lalu. Meski sudah dua kali menjalani pemeriksaan di salah satu rumah sakit swasta di Jember, namun tidak sebutir obatpun diberikan oleh pihak rumah sakit.
Muryati ibu korban menceritakan, anaknya menderita hydrocepalus sejak berusia 40 hari. Namun karena keterbatasan biaya, pengobatan hanya dilakukan di Puskesmas setempat. Hingga akhirnya sekitar 2 tahun lalu bupati Jember Faida yang saat itu masih sebagai calon bupati, datang dan berjanji akan memberikan fasilitas operasi gratis untuk anaknya.
Ariel lanjut Muryati, sempat dua kali dibawa ke salah satu rumah sakit swasta di Jember. Yang pertama hanya diperiksa kemudian disuruh pulang, begitu juga yang kedua hanya diperiksa dan disuruh pulang tanpa diberikan obat sedikitpun. Petugas kesehatan yang melakukan pemeriksaan hanya meminta Muryati menunggu panggilan selanjutnya.
Namun sampai hampir 2 tahun dan yang menjanjikan juga sudah terpilih menjadi bupati, Muryati mengaku tidak pernah menerima panggilan apapun, meski anaknya tercatat sebagai pasien nomor urut 1. Hingga akhirnya Ariel meninggal dunia di usia 8 tahun tanggal 10 Januari lalu.
Cerita Muryati ini dibenarkan oleh Hasyim, salah satu simpatisan Faida yang kebetulan sebagai pengusul diberikannya pengobatan gratis terhadap Ariel. Menurut Hasyim, dirinya sudah berkali-kali mengingatkan bupati Jember Faida atas janjinya, namun hanya dijanjikan akan segera dilakukan operasi.
Namun sampai Ariel meninggal janji tersebut tidak pernah dipenuhi. Sebagai simpatisan sekaligus yang mengusulkan, Hasyim mengaku sangat malu kepada warga. Bahkan dirinya juga sudah mengeluarkan dana pribadinya untuk membantu warga.
Sementara bupati Jember Faida ketika akan dikonfirmasi telefon selularnya sedang tidak aktif. Sedangkan ketua tim kampanye pasangan Faida-Muqit, Tabroni ketika dihubungi telefon selularnya juga tidak diangkat.
(1.797 views)