Juru bicara Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Jember Mufti Ali, melepas songkok yang dipakainya sebelum membacakan pandangan akhir FKB atas nota pengantar P-APBD 2016. Aksi ini merupakan bentuk protes ribuan guru ngaji kepadanya, karena sampai hari ini tunjangan kesejahteraan guru ngaji belum dicairkan.
Mufti Ali dalam forum mengatakan, sebelum mengikuti sidang paripurna pandangan umum fraksi selasa siang, dirinnya mendapat pesan singkat dari banyak guru ngaji. Mereka mempertanyakan kenapa pencairan tunjangan kesejahteraan guru ngaji yang sebelumnya tidak rumit, justru sekarang dibuat semakin rumit.
Mereka tidak memahami adanya perubahan mekanisme atau apapun yang menjadi alasan PEMKAB. Yang jelas kesejahteraan guru ngaji menjadi bahan kampanye, yang kemudiaan saat ini menjadi janji kerja Bupati. Sebagai bentuk protes para guru ngaji yang diamanatkan kepadanya, dirinya diminta membuka songkok ketika membacakan pandangan akhir Fraksi Kebangkitan Bangsa.
Sementara Wakil Bupati Jember Abdul Muqit Arief ketika dikonfirmasi usai paripurna mengatakan, setiap anggota dewan memiliki cara masing-masing dalam menyampaikan masukannya kepada PEMKAB. Muqit menilai apa yang dilakukan juru bicara FKB wajar-wajar saya.
Dirinya juga melihat apa yang disampaikan FKB merupakan masukan yang konstruktif, karena memang dalam forum seperti inilah eksekutif dan legislatif bisa saling memberi masukan. Sedangkan terkait pencairan tunjangan guru ngaji Muqit mengaku sudah menyampaikannya kepada Bupati, dan tahun ini juga rencananya tunjangan tersebut akan dicairkan.
Diberitakan sebelumnya, meski DPRD berkali-kali mendesak pencairan tunjangan kesejahteraan guru ngaji, hingga saat ini PEMKAB Jember belum mencairkannya, karena masih menunggu proses verifikasi yang dilakukan bagian kesra.
Bahkan sempat menjadi kontroversi, ketika PEMKAB mengubah sejumlah persyaratan penerima, diantaranya terkait jumlah santri, bukan pns dan guru ngaji di haruskan membuat proposal permohonan bantuan.
Sigit
(932 views)