MUI Kalarifikasi Pernyataan Jalal

Majelis Ulama Indonesia atau MUI Jember Senin siang memanggil bupati Jember MZA Djalal untuk mengklarifikasi pernyataan Jalal dalam bedah potensi desa di kecamatan Silo beberapa waktu lalu. Sebab MUI mendengar pernyataan Jalal yang di nilai beberapa pihak menghina nabi Muhammad yang saat ini banyak diperbincangkan masyarakat.

Bupati Jember MZA Djalal usai memberikan klarifikasi kepada MUI mengatakan, dirinya sama sekali tidak ada maksud menghina apalagi menistakan nabi Muhammad. Tetapi dirinya ingin membangkitkan semangat masyarakat Jember, untuk meneladani apa yang dilakukan nabi Muhammad dengan membiasakan diri tangan diatas.

Nabi Muhammad meski hanya memiliki sepiring nasi, rela memberikannya untuk tetangganya yang kelaparan. Tetapi mental masyarakat kita meski memiliki harga berlimpah ketika ada pembagian BLT mengaku sebagai warga miskin. Karena itulah Jalal mencontohkan apa yang dilakukan nabi Muhammad kepada masyarakat.

Meski tidak pernah bermaksud menghina nabi Muhammad, jika ada pihak tertentu yang merasa terganggu dengan pernyataannya Djalal meminta maf sebesar-besarnya. Bahkan sebelum ada perbincangan dimasyarakat Djalal mengaku sudah meminta maaf kepada Allah dan membaca istighar untuk menebus kesalahannya jika memang apa yang diucapkannya keliru.

Sementara ketua MUI Jember KH. Sahilun A Nasir mengatakan, pihaknya sudah banyak mendapatkan informasi keluhan masyarakat baik melalui sms maupun dari internet atas pernyataan Djalal. Karena itu MUI kemudian berinisiatif memanggil Djalal untuk meminta klarifikasi agar informasi yang masuk kepada MUI tidak hanya sepihak.

MUI lanjut Sahilun, juga sudah memperhatikan rekaman pidato Djalal dalam acara bedah potensi desa mulai pembuka hingga penutup. Kesimpulannya MUI sama sekali tidak melihat adanya kesengajaan dari pernyataan Djalal untuk menghina nabi Muhammad. Dan beberapa kyai yang juga sebagai saksi dilokasi menyatakan tidak pernah ada keresahan di masyarakat Silo.

Sahilun menjelaskan, jika dalam hal ini ada kata-kata yang dipakai Djalal dianggap kurang tepat oleh sebagian pihak, Djalal menyatakan permintaan maaf. Agar persoalan ini tidak melebar, Muspida rencananya Selasa siang mengundang semua pihak termasuk pihak yang merasa keberatan dengan pernyataan Djalal yang sudah berhasil terdeteksi oleh Kapolres.

Sementara Kapolres Jember AKBP Nasri saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sama sekali tidak berniat menyelesaikan persoalan ini ke ranah hokum. Jika segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan cara persuasive, penyelesaian di ranah hukum masih belum perlu dilakukan. Apalagi masyarakat Jember masih memegang teguh adat ketimuran.

Nasri juga tidak merminat untuk mencari siapa orang yang pertama kali menyebarkan isu tersebut. Karena menurutnya persoalan tidak akan bisa diselesaikan dengan mengejar penyebar kabar tersebut. Cukup dengan mempertemukan pihak yang keberatan dengan bupati dan MUI agar tidak terjadi perbedaan penafsiran.

(971 views)
Tag: