Benarkah Ada Indikasi Proyek Dalam Program Sagusala ?

Dalam waktu dekat Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Jember, akan segera merealisasikan Program Satu Guru Satu Laptob atau lebih dikenal dengan Program Sagusala. Dimana program ini, akan direalisasikan Pada Tahun 2010 mendatang. Terkait persoalan ini, yang menjadi pertanyaan adalah, apa alasan Dinas Pendidikan merealisasikan Program Sagusala? Kemudian, akankah pola pembelian laptob ini akan dikoordinir oleh Dinas Pendidikan? Lalu, bagaimana komentar masyarakat ? Serta bagaimana pula evaluasi DPRD Jember ?

Untuk terus meningkatkan kualitas Guru Di Indonesia, pemerintah pusat telah merealisasikan program tunjangan profesi kepada guru. Dimana tunjangan tersebut, diberikan kepada guru yang dinyatakan lulus ujian sertifikasi. Sehingga konsekuensi dari program tersebut, Sumber Daya Manusia guru harus lebih berkualitas, kemudian lebih professional, serta kemampuan informasi dan tehnologinya sudah tidak perlu diragukan lagi. Demikian Ungkapan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Ahmad Sudiyono.

Darisinilah lanjut Ahmad, Dirjen Pendidikan pusat menggagas Program Sagusala. Hanya saja, sebagai awalan program, dikhususkan kepada guru yang sudah dinyatakan lulus sertifikasi. Ahmad menambahkan, dirinya tidak berniat untuk membeda-bedakan antara guru yang lulus sertifikasi dengan yang belum. Sebab berdasarkan petunjuk dari dirjen, program ini sementara waktu dikhususkan kepada mereka yang lulus sertifikasi.

Ahmad kembali menjelaskan, Dinas Pendidikan membebaskan guru, untuk membeli laptob dimana saja. Yang terpenting kata dia, didalamnya sudah terdapat sofware program pendidikan, yang dapat dipakai pada saat proses belajar mengajar

Ahmad kawatir, jika dirinya kembali mengkoordinir pembeliannya, diluar akan menimbulkan persepsi bermacam-macam. Rencananya kata dia, program ini akan disosialisasikan kepada guru-guru Pada Tahun 2010 mendatang.

Koordinator LSM Forum Komunikasi Anak Bangsa, Suharyono menjelaskan, sebenarnya program ini patut diapresiasi bersama, sebab, akan berimbas kepada peningkatan kualitas guru.

Hanya saja lanjut Suharyono, dirinya mencium adanya indikasi proyek pada Program Sagusala. Sepertinya kata dia, program ini cenderung adanya paksaan dari Dispendik. Semestinya dispendik menanyakan kepada guru, apakah sedang membutuhkan laptob apa tidak. Sebab lanjut Suharyono, tidak menutup kemungkinan, guru sudah mempunyai komputer di rumahnya, sehingga mereka tidak perlu lagi membeli laptob.

Suharyono mengaku, dirinya tidak habis fikir dengan Program Dispendik. Selama ini program-program yang ada, justru hanya mengarah kepada penjualan barang, yang ujung-ujungnya berorientasi keuntungan.

Anggota Komisi D DPRD Jember, Ayong Syahroni, menilai, jika dibandingkan dengan kabupaten lain, Jember sudah terlambat. Di daerah lain, program pendidikan sudah mengarah kepada Satu Sekolah Dengan Guru Bermutu (Sagumutu).

Selama ini, Proses Pembelajaran Di Jember, kebanyakan masih menggunakan metode konvensional. Hal ini terbukti, budaya membaca masih sangat rendah, padahal di kabupaten lain, dalam proses pembelajaran siswa diarahkan kepada tiga arah, melihat, mendengarkan dan mempraktikkan.

Terkait Program Sagusala, Ayong menyarankan kepada Dinas Pendidikan, agar proses pengadaannya dipikirkan betul, jangan sampai terjadi monopoli, dan tidak adanya pemaksaan kepada guru-guru. Kemudian, sebelum program ini direalisaisikan, dispendik harus mensosialisasikan kepada guru-guru. Ayong kawatir, jika tidak ada sosialisasi, akan muncul pandangan miring dari berbagai pihak.

(1,074 views)
Tags: