Nasib Operasi Lapter Yang Semakin Tidak Jelas.

Minimnya sisa anggaran APBD Jember ternyata tidak hanya berimplikasi pada terancamnya usulan anggaran RSUD Subandi. Salah satunya Lapter Notohadinegoro–pun terkena imbasnya. Itu artinya, lapter satu-satunya kebanggaan Rakyat Jember yang sudah lama mangkrak ini, akan terus merana. Jika memang demikian persoalannya, pertanyaanya adalah, bagaimana sikap wakil terkait persoalan ini? Lalu, bagaimana pula keberlangsungan masa depan Lapter Notohadinegoro? Akankah lapter kembali beroperasi tahun mendatang atau bahkan terus mangkrak?

Sejak berakhirnya kontrak dengan maskapai Tri-MG Air Lines, Lapter Notohadinegoro hingga hari ini masih sepi dari aktifitas penerbangan. Tidak hanya itu, sejak ditetapkannya dua pejabat berwenang menjadi tersangka oleh kejaksaan agung, kepastian kapan beroperasinya lapter semakin tidak jelas.

Menurut Anggota Komisi C DPRD Jember, Ahmad Halim, sejauh ini baik DPRD Jember maupun pemkab belum ada target kapan Lapter Notohadinegoro beroperasi kembali. Apalagi lanjut Halim, pasca Anggaran Jember mengalami defisit sebesar 40 miliar, anggaran lapter untuk tahun ini sebesar 11 miliar terpaksa ditunda pencairannya.

Halim menambahkah, dirinya juga tidak bisa memastikan apakah untuk anggaran tahun depan, lapter kembali dianggarkan. Mengenai berapa besarannya, Halim juga tidak bisa memastikan sebab harus dilihat dulu kekuatan APBD Jember. Lebih lanjut Halim menjelaskan, hingga hari ini belum ada satupun maskapai yang melirik Lapter Notohadinegoro. Kebanyakan maskapai di semua daerah, akan melirik pangsa pasar yang sudah mempunyai kepastian penumpang.

Meski demikian, Halim memandang keberadaan lapter di Jember masih sangat diperlukan, sebab dirinya yakin keberadaan bandara sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan Ekonomi Jember.

Sekretaris Daerah Kabupaten Jember, Juwito mengatakan, mau tidak mau anggaran untuk Lapter terpaksa dipending pencairannya. Sebab kata dia, jika ini tidak dilakukan defisit anggaran Jember akan semakin besar. Juwito menambahkan, faktor lain yang mendasari pemkab menunda anggaran Lapter adalah hingga hari ini dinas perhubungan belum menemukan satupun maskapai, yang bersedia mengoperasikan pesawatnya di Jember.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Jember, Hadi Paramu sebelumnya menjelaskan, ditinjau dari kacamata ekonomi, sebenarnya keberadaan lapter berpeluang untuk meningkatkan Perekonomian Jember. Hadi mengibaratkan, lapter merupakan gerbang bagi Perekonomian Jember.

Investor dari luar daerah akan melirik Jember, apabila alat transportasi ke Jember sangat mudah. Apalagi kata dia, Jember merupakan daerah berpotensi untuk membuka bisnis.

Sementara itu, Aktifis Forum Komunikasi Anak Bangsa, Suharyono mengatakan, sejak awal dirinya sudah memprediksikan keberadaan Lapter Di Jember akan selalu merugi. Sebab fenomena ini hampir terjadi semua wilayah di negara ini.

Kemudian lanjut Suharyono, keberadaan lapter dukup dilematis. Di satu sisi, jika tidak beroperasi pemkab tetap harus mengeluarkan biaya untuk perawatan fasilitas disana. Namun di sisi lain, jika dioperasikan maka sudah bisa dipastikan operasi bandara akan selalu mengalami kerugian. Meski demikian, Suharyono tetap menyambut gembira keputusan pemkab yang mempending anggaran untuk lapter sebesar 11 miliar.

(630 views)
Tag: