
Kawan KISS FM.
Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap dunia pendidikan mulai menjadi perhatian. Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Nur Purnamasidi, menilai evakuasi pelajar dari wilayah terdampak asap bukan perkara mudah karena mereka sulit dipisahkan dari tempat tinggalnya.
Hal tersebut disampaikan Purnamasidi usai menghadiri workshop kepemimpinan di Institut Teknologi dan Sains Mandala Jember, Rabu, 21 Oktober. Menurutnya, sebaran asap karhutla seperti di kawasan Pegunungan Argopuro, sulit diprediksi sehingga dampaknya terhadap lingkungan tempat tinggal dan sekolah juga perlu diantisipasi.
Politisi yang membidangi pendidikan dan kebudayaan tersebut menilai, langkah paling realistis untuk saat ini adalah memperkuat perlindungan kesehatan bagi pelajar di sekolah-sekolah yang berada di sekitar kawasan terdampak karhutla.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penyediaan layanan kesehatan, pembagian masker, pencegahan penyakit akibat paparan asap, serta pemberian vitamin untuk membantu menjaga daya tahan tubuh siswa.
Dia menegaskan, jika karhutla berlangsung dalam jangka panjang, pembelajaran tatap muka secara reguler perlu dievaluasi. Sekolah harus menyiapkan alternatif pembelajaran, termasuk pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring, agar siswa tetap memperoleh layanan pendidikan tanpa harus terus terpapar asap.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pelaksanaan PJJ tidak mengulangi persoalan pembelajaran daring saat pandemi COVID-19. Kualitas pembelajaran harus tetap terjaga sehingga siswa tidak mengalami ketertinggalan akademik akibat kondisi darurat tersebut.
Lebih lanjut, Purnamasidi mengatakan, pihak terkait saat ini tengah memetakan wilayah terdampak karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, hingga kini belum tersedia program standardisasi khusus untuk penanganan jangka pendek di sekolah-sekolah yang terdampak asap.
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada siswa kelas 12 SMA yang akan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Menurutnya, penanganan siswa di wilayah terdampak tidak cukup dilakukan melalui kebijakan afirmasi yang hanya mempermudah kelulusan seleksi tanpa mempertimbangkan kesiapan akademik.
Sebaliknya, siswa perlu mendapatkan pendampingan intensif dan pola pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi darurat, agar tetap mampu mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
Purnamasidi berharap, langkah khusus tersebut dapat memastikan pelajar di wilayah terdampak asap karhutla tetap memperoleh hak pendidikan dan memiliki kesempatan melanjutkan studi ke perguruan tinggi yang diinginkan.
<<<<< Hafit
(28 views)