
Kawan KISS FM.
Fenomena El Nino yang memicu kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia masih berlangsung dan diperkirakan telah memasuki fase puncaknya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyebut intensitas El Nino pada Agustus 2026 diprediksi mencapai indeks 2,9.
Prakirawan BMKG Pos Meteorologi Jember, Hukama Nur Akmal, mengatakan indeks El Nino pada Juli 2026 tercatat sekitar 2,2. Sementara pada Agustus, nilainya diprediksi meningkat hingga 2,9.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan anomali suhu permukaan laut di kawasan Pasifik yang cukup tinggi. Bahkan, kondisi ini disebut sebagai salah satu El Nino terkuat dalam kurun waktu sekitar 150 tahun.
Hukama menjelaskan, indeks tersebut merupakan ukuran anomali suhu permukaan laut di kawasan Pasifik. Ketika suhu permukaan laut di wilayah tersebut lebih hangat secara signifikan, kondisi ini berpengaruh terhadap pembentukan awan dan distribusi hujan di Indonesia.
Semakin besar anomali suhu permukaan laut di Pasifik, semakin besar pula potensi berkurangnya pembentukan awan di sejumlah wilayah Indonesia yang terdampak.
Dampaknya paling terasa di wilayah yang secara geografis lebih dekat dengan kawasan Pasifik, termasuk sebagian Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi hingga Papua.
Kondisi ini menjelaskan mengapa hujan masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya bagian barat, meski fenomena El Nino sedang berada pada intensitas tinggi.
Hukama menyebut wilayah seperti Kalimantan Barat dan sebagian Sumatera memiliki pengaruh fenomena atmosfer yang berbeda. Di kawasan Samudra Hindia terdapat fenomena Indian Ocean Dipole atau IOD yang juga dapat memengaruhi pola curah hujan.
Fenomena IOD memiliki karakter yang hampir serupa karena dapat menyebabkan kondisi lebih kering maupun lebih basah. Namun, cakupan pengaruhnya tidak seluas El Nino yang terjadi di kawasan Pasifik.
Dengan kondisi El Nino yang diprediksi mencapai puncak pada Agustus, masyarakat di wilayah yang terdampak perlu mewaspadai berlanjutnya kondisi kering. Meski demikian, Hukama menegaskan El Nino bukan berarti tidak akan terjadi hujan sama sekali.
Hujan masih mungkin turun ketika terdapat kondisi atmosfer yang mendukung. Namun, secara umum, intensitas dan frekuensinya berpotensi lebih rendah selama pengaruh El Nino masih kuat.
Untuk wilayah Jawa, termasuk Jember, kondisi tersebut dapat memperpanjang periode kering dan meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air, terutama apabila tidak diimbangi dengan hujan yang cukup.
BMKG mengimbau masyarakat tetap memperhatikan informasi cuaca dan iklim terbaru karena perkembangan El Nino dan fenomena atmosfer lainnya dapat memengaruhi pola hujan di masing-masing wilayah.
<<<< Ulil
(56 views)