Petani Jember Diimbau Waspadai Kekeringan di Musim Tanam 3

ilustrasi

Kawan KISS FM.

Ancaman kekeringan pada musim tanam (MT) ketiga 2026 diperkirakan akan menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Jember. Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Asosiasi Petani Pangan Indonesia (APPI) Jember, Jumantoro, mengingatkan petani agar lebih cermat menentukan komoditas yang ditanam agar tetap memperoleh keuntungan di tengah anomali cuaca.

Menurut Jumantoro, prediksi musim kemarau yang lebih panjang berpotensi menyebabkan banyak lahan pertanian mengalami kekurangan air. Karena itu, petani tidak dapat lagi menerapkan pola tanam seperti musim-musim sebelumnya. Apalagi kondisi infrastruktur pertanian di Jember mencapai 70 persen mengalami kerusakan.

Ia menilai, selain kecerdasan petani dalam menentukan komoditas, pemerintah melalui dinas terkait juga perlu segera memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Pemetaan tersebut dinilai penting sebagai dasar penyusunan strategi tanam sehingga lahan tetap produktif, petani masih dapat memperoleh keuntungan, serta risiko gagal panen maupun ancaman terhadap ketahanan pangan dapat ditekan.

Dia juga menekankan pentingnya edukasi kepada petani mengenai strategi budidaya di tengah perubahan iklim. Menurutnya, pendampingan mengenai pemilihan varietas, pola tanam, hingga manajemen penggunaan air menjadi langkah yang harus dilakukan agar petani tetap mampu berproduksi meski menghadapi musim kemarau ekstrem.

Peringatan tersebut sejalan dengan kondisi yang mulai terjadi di Kabupaten Jember. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat dampak kekeringan mulai dirasakan di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, ditandai dengan mengeringnya sejumlah sumur milik warga.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BPBD Jember memetakan delapan kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan mulai Juli 2026. Lima kecamatan masuk kategori potensi tinggi atau zona merah, yakni Tempurejo, Kalisat, Patrang, Rambipuji, dan Sumbersari. Sementara Kecamatan Pakusari, Silo, dan Mayang masuk kategori potensi sedang atau zona kuning, sedangkan 23 kecamatan lainnya berada pada kategori potensi rendah.

Di sisi lain, berbagai langkah antisipasi juga mulai dilakukan. Pemerintah Kabupaten Jember menyiapkan penguatan infrastruktur pertanian melalui program pembangunan 100 unit irigasi perpompaan (Irpom), rehabilitasi jaringan irigasi, serta perbaikan sekitar 16 titik irigasi skala besar untuk meningkatkan distribusi air ke lahan pertanian.

<<< ULIL

(68 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.