BMKG Jelaskan Penyebab Hujan Lebat di Awal Musim Kemarau di Jember

Kawan KISS FM.

Munculnya hujan dengan intensitas cukup lebat di sejumlah wilayah Jember, memicu kebingungan di kalangan petani. Pasalnya, sebelumnya BMKG memprediksi musim kemarau datang lebih awal, namun kondisi di lapangan justru masih diguyur hujan hingga berdampak pada tanaman, termasuk jagung yang terendam.

Menanggapi fenomena tersebut, prakirawan BMKG Pos Meteorologi Jember, Adi Rohman Firdausi, kepada KISS FM menjelaskan bahwa hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh gangguan cuaca berupa gelombang ekuatorial Rossby yang melintasi wilayah Jawa Timur.

Menurutnya, fenomena ini meningkatkan suplai uap air di atmosfer sehingga memicu pertumbuhan awan hujan secara luas. Dampaknya, hampir seluruh wilayah Jawa Timur mengalami hujan dalam waktu yang relatif bersamaan.

Karakteristik gangguan ini disebut cenderung merata. Saat melintasi suatu wilayah, hujan bisa terjadi hampir di seluruh daerah, biasanya mulai siang hingga sore hari, bahkan bisa sejak pagi dengan pola hujan yang terputus-putus.

Ia menegaskan bahwa fenomena ini merupakan hal yang normal dan terjadi secara berkala, umumnya setiap dua hingga tiga bulan sekali. Gangguan cuaca seperti ini juga tidak berkaitan langsung dengan musim, sehingga bisa terjadi baik saat musim hujan maupun kemarau.

Adi menambahkan, meskipun suatu wilayah telah memasuki musim kemarau, hujan masih tetap berpotensi terjadi apalagi jika terdapat gangguan atmosfer seperti gelombang Rossby.

Untuk kondisi terkini, BMKG mencatat gangguan atmosfer saat ini mulai melemah dan telah bergeser ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sementara di Jawa Timur, termasuk Jember, cuaca berangsur kembali normal.

Adi menyebutkan, wilayah Jember bagian selatan sejatinya telah memasuki awal musim kemarau sejak akhir April 2026. Namun, adanya gangguan cuaca beberapa hari terakhir sempat memicu hujan kembali di kawasan tersebut.

Sementara itu, untuk wilayah Jember bagian tengah dan utara, awal musim kemarau diprakirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir Mei 2026.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya petani, untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan tidak beranggapan bahwa musim kemarau sepenuhnya bebas dari hujan. Hujan masih bisa terjadi, namun jumlah curah hujannya relatif lebih rendah, umumnya di bawah 150 milimeter per bulan. Ulil.

(55 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.