Dinas TPHP Jember Imbau Petani Sesuaikan Pola Tanam, Antisipasi Potensi Kekeringan

Kawan KISS FM,

Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Jember, mengimbau para petani untuk menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air di masing-masing wilayah. Langkah ini dinilai penting untuk mengantisipasi potensi kekeringan sesuai prakiraan musim kemarau di tahun 2026.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPHP Kabupaten Jember, Luhur Prayogo, Selasa 10 Maret mengatakan, pihaknya saat ini tengah memetakan wilayah yang mengalami penurunan sumber air sebagai dasar penentuan rekomendasi tanaman bagi petani.

Menurutnya, tidak semua wilayah bisa langsung diarahkan mengganti komoditas tanaman. Pemerintah harus terlebih dahulu melihat kondisi lahan dan sistem tanam yang sudah berjalan di tiap daerah.

Luhur menjelaskan, sejumlah wilayah di Kabupaten Jember memang dikenal cukup rawan mengalami kekeringan saat musim kemarau. Beberapa kecamatan yang kerap menjadi perhatian antara lain wilayah Jember bagian selatan hingga barat, seperti di wilayah Ambulu, Jenggawah, kemudian Tempurejo, dan sebagian kawasan di Tanggul. Wilayah-wilayah tersebut perlu menjadi perhatian bagi petani dalam menentukan jenis tanaman.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa saat ini kondisi cuaca masih berada pada masa peralihan. Oleh karena itu, petani belum perlu terburu-buru mengubah komoditas tanam selama sumber air masih tersedia.

Ia menyarankan petani tetap menanam padi apabila ketersediaan air masih mencukupi, karena tanaman padi tidak selalu membutuhkan genangan air secara terus-menerus. 

Menurut Luhur, petani juga perlu memperhatikan pola tanam di sekitar lahannya agar tidak terjadi perbedaan komoditas yang terlalu kontras, karena dapat memengaruhi pengelolaan air maupun pengendalian hama.

Ia menambahkan, beberapa petani biasanya mulai beralih ke tanaman jagung ketika memasuki pertengahan musim kemarau, khususnya sekitar bulan Juli, karena risiko kekeringan semakin tinggi.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Pangan Indonesia, Jumantoro berharap agar pemerintah melakukan sosialisasi kepada para petani terkait informasi kemarau panjang di tahun 2026. Melalui sosialisasi yang tepat, petani diharapkan bisa memperoleh edukasi untuk menanam dengan jenis yang tepat. 

Sebelumnya BMKG menyampaikan prakiraan datangnya musim kemarau di Indonesia tahun 2026, diprediksi lebih cepat di bulan April dan berlangsung lebih panjang dan kering akibat fenomena El Nino.

<<<<<<<< ULIL

(239 views)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.