
Memasuki musim tanam ketiga di akhir bulan Agustus 2024, sebagian besar petani di Kabupaten Jember masih menunggu turunnya hujan. Kondisi ini hampir merata terjadi di Jember, mulai dari kawasan utara, timur, hingga selatan.
Ketua Asosiasi Petani Pangan Indonesia (APPI), Jumantoro mencatat, sedikitnya air dari irigasi hingga mengecilnya sumber mata air, membuat petani memilih untuk membiarkan lahannya kosong, sambil menunggu hujan untuk memutuskan apakah akan menanam padi kembali atau jagung.
Sebab sejak awal bulan Agustus, mayoritas wilayah di Jember sudah memasuki masa panen padi, jagung hingga tembakau. Untuk harga padi sendiri, per hari ini, Rabu 28 Agustus, sudah mencapai Rp6.700-7.000 per kg untuk gabah kering panen.
Kendati demikian, mahalnya harga gabah juga tidak diikuti dengan produksi panen yang signifikan.
Petani sebagian besar mengalami penurunan produksi, dari yang biasanya mendapat 5-6 ton per hektar, kini hanya mencapai 3 ton.
Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua APPI Jatim tersebut mengatakan, penurunan hasil panen pada musim kedua kemarin tidak hanya terjadi di Jember, namun merata dari kawasan Indonesia Timur hingga Barat.
Musim kemarau kali ini juga membuat petani di banyak wilayah memutuskan untuk menunggu hujan dan sementara membiarkan lahannya kosong.
(1.027 views)