Impor di Tengah Panen Raya, Bulog Jember Sebut Neraca Pangan Nasional Masih Defisit

Ilustasi beras impor

Kepala Kantor Bulog Jember Muhammad Ade Saputra menyampaikan mengapa pemerintah pusat memutuskan untuk melakukan impor beras. Padahal sebagai negara agraris, Indonesia juga menjadi lumbung pangan, lewat panen mandiri dari para petani untuk ketahanan pangan.
 
Seperti diketahui di Jember sendiri saat ini sudah memasuki musim panen padi. Kendati demikian beras impor yang masuk melalui Bulog terus berlangsung.
 
Ade mengatakan, kondisi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan pemerintah saat ini membuat Bulog belum bisa menyerap padi untuk kualitas medium Sebab harga di tingkat petani berada di atas HPP. Sementara pemerintah juga belum berani menaikkan HPP yang saat ini sebesar Rp5000.
 
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) atau National Food Agency (NFA) kondisi neraca pangan nasional pada bulan Januari – Februari mengalami defisit.
 
Kekurangan beras mencapai 2,8 juta ton karena produksi yang terganggu imbas el nino. Untuk itu pemerintah melalui Bapanas menugaskan Perum Bulog untuk melakukan impor beras.
 
Ade mengatakan Bulog sendiri hanya menerima penugasan. Bahkan kondisi stok neraca pangan saat ini dia menyebut masih sangat defisit dengan harga pembelian tertinggi gabah Rp7.800 dan terendah Rp7.100 per kg. Untuk itu harga beras Bulog untuk kelas premium menjadi Rp13.000.
 
Sementara HPP medium Bulog itu ditetapkan Rp9.950. Harga tersebut digunakan untuk beras impor dengan tujuan cadangan pangan, bantuan pangan pemerintah dan bencana alam.
 
<<<<ulil
 

(848 views)