AJI Jember Nilai Pengusutan Kasus Kriminalisasi Terhadap Jurnalis  Jauh Dari Keadilan

IMG-20190503-WA0022

Dalam rangka memperingati hari kebebasan pers, sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen atau AJI Jember, Jumat pagi menggelar aksi solidaritas di Bundaran DPRD Jember. Dalam aksi tersebut AJI menyoroti masih adanya upaya menghalangi kerja jurnalis, dan proses penegakan hukum kasus kriminalisasi terhadap jurnalis yang masih jauh dari keadilan.

Koordinator aksi Mahrus Sholihin menjelaskan, meski kerja jurnalis dilindungi oleh undang-undang, namun nyatanya sejumlah kekerasan dan upaya mengahalang-halangi wartawan masih kerap ditemukan dalam beberapa tahun terkahir. Mirisnya tindakan tersebut kerap dilakukan oleh seorang pejabat, masyarakat umum, dan aparat penegak hukum.

Mahrus mencontohkan, kasus yang menimpa seorang jurnalis Ghinan Salman, yang beberapa waktu lalu, terdakwa tunggal bernama Jumali dibebaskan dari segala tuntutan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bangkalan. Selain itu saat aksi May Day di Bandung, juga terjadi kriminalisasi terhadap jurnalis bernama Iqbal Kusumadireza dan Prima Mulia, yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

Mahrus juga menyebut kasus pembungkaman juga banyak terjadi di lingkungan pers kampus atau pers mahasiswa. Bahkan Mahrus juga mencontohkan kasus kekerasan yang dilakukan oknum TNI terhadap salah satu jurnalis media online bernama Oryza saat meliput pertandingan sepak bola di JSG Jember .

Dengan sederatan peristiwa yang terjadi, Mahrus menilai kebebasan pers di Indonesia hingga saat ini masih perlu dipertanyakan. Padahal jika merujuk pada KUHP serta Pasal 18 Undang-Undang Pers, siapaun yang mengahalang-halangi tugas jurnalis dapat dipidana dua tahun penjara atau denda 500 juta rupiah.

(396 views)