Audiotorial “Siti Syarofah”

Entah Siti Syarofah TKW yang keberapa yang meninggal di negeri rantau. Begitulah, Siti Syarofah, warga Semboro dikabarkan meninggal di Malaysia. Katanya keluarganya mengetahui kabar itu dari polisi Malaysia. Harapan keluarga, jasad Siti Syarofah bisa dimakamkan di kampung halaman, yang karena itu pihak keluarga berharap pemerintah bisa membantu pemulangan jasad Siti Syarofah.

Harapannya tentu saja Siti Syarofah meninggal dengan wajar. Bukan disebabkan oleh perilaku kejam majikan atau beban kerja di luar batas kesanggupannya. Dan yang lebih penting lagi adalah, kebijakan perbaikan ekonomi pemerintah sekurang-kurangnya menekan faktor pendorong dan penarik warga negera Indonesia bekerja keluar negeri. Tentu saja maksudnya bekerja di luar negara di sektor informal yang tidak terlampau memerlukan keterampilan.

Teori dorong-tarik adalah teori yang menjelaskan terjadinya gejala akibat dua faktor utama, yakni faktor pendorong dan faktor penarik. Bagi TKI, faktor pendorongnya adalah kelangkaan lapangan kerja di kampung halaman mereka. Sedang faktor penariknya adalah upah yang diyakini lebih tinggi jika bekerja di luar negeri.

Sempitnya lapangan kerja, ditambah struktur kepemilikan tanah yang timpang, melengkapi faktor pendorong warga negara Indonesia mengadu nasib di negeri rantau. Rata-rata kepemilikan tanah di negeri ini kalau tidak keliru hanya 0,3 hektar. Karena itu, para teorisi memisahkan petani dari buruh tani. Buruh tani adalah penduduk yang tidak memiliki lahan garapan, yang oleh karena itu hanya bermodal tenaga. Sementara pada saat yang sama lahan pertanian banyak yang beralih fungsi. Data di BPS menyebutkan  jumlah keluarga petani turun hingga 5 juta dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2013 jumlah keluarga petani di Indonesia tercatat 26 jutaan.

Kalau berkurangnya jumlah keluarga petani dilihat sebagai kecenderungan, maka bisa dibayangkan apa jadinya negeri ini 10 atau 20 tahun mendatang. Sementara sektor industri memperlihatkan kelesuan.

Begitulah, maka harapannya adalah kebijakan pemerintah sekarang bisa segera dirasakan. Kebijakan pengurangan subsidi BBM yang katanya dialihkan untuk pembangunan infrastruktur, perluasan lapangan kerja dan lain sebagainya. Bukan sebaliknya, subsidi BBM dikurangi, energi malah mengalami krisis. Subsidi BBM dikurangi, dolar malah tembus 13 ribu lebih. Subsidi dikurangi ekonomi makro malah lesu, lalu faktor pendorong dan penarik warga Indonesia bekerja di negeri orang jangankan dihilangkan, berkurang saja rasanya masih tanda tanya. Dan  kabar kematian Siti Syarofah tidak menyurutkan rekan-rekan di kampung halamannya untuk mengadu nasib ke negeri orang.

(493 views)