Limbah Puskesmas Sumbersari Yang Dikeluhkan Warga Ternyata Hanya Limbah Rumah Tangga

Limbah Puskesmas sumbersari yang selama ini dikeluhkan warga sekitar, ternyata bukan merupakan limbah medis, tetapi hanya limbah rumah tangga dari kantin puskesmas. Hal ini diketahui setelah Komisi D DPRD Jember melakukan sidak ke Puskesmas Sumbersari senin siang.

Kepala Puskesmas Sumbersari dr Edwina menjelaskan, laporan tentang kekhawatiran warga sekitar tentang limbah tersebut sebenarnya sudah lama didengarnya. Bahkan beberapa kali Edwina mengaku sudah memberikan penjelasan kepada warga, baik secara langsung maupun melalui ketua rw setempat, bahwa limbah tersebut tidak berbahaya. Namun mungkin penjelasannya belum bisa memuaskan warga.

Untuk pengolahan limbah medis sendiri edwina menjelaskan, pihaknya sudah melakukan sesuai prosedur tetap yang perintahkan oleh dinas kesehatan. Limbah medis cair dikirim ke RSUD Subandi untuk dilakukan pengolahan limbah, sedangkan limbah padat dikirim ke pakusari untuk dimusnahkan dengan cara dibakar.

Sementara Ketua Komisi D Dprd Jemebr Ayub Junaedi ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa sebenarnya tidak ada persoalan dengan pengiolahan limbah medis di puskesmas sumbersari. Limbah yang keluar dari puskesmas ke perkampungan hanya merupakan limbah rumah tangga, yang berasal dari kantin.

Meski demikian Ayub menilai wajar sebagai orang awam muncul kekhawatiran dikalangan masyarakat. Untuk itu ayub meminta pihak puskesmas untuk membuat septik tank atau resapan tersendiri sebagai langkah jangka pendek. Sehingga dengan memiliki pembuangan tersendiri tidak ada lagi limbah apapun yang keluar dari puskesmas ke perkampungan warga.

Diberitakan sebelumnya sejumlah masyarakat terutama yang tinggal di sekitar puskesmas sumbersari, mengirimkan surat aduan kepada komisi d dprd jember terkait dugaan adanya limbah medis cair dari puskesmas ke selokan di pemukiman warga. Komisi D kemudian menyampaikan persoalan ini kepada Kepala Dinas Kesehatan dr Olong Fajri Maulana, saat digelar hearing di komisi d beberapa waktu lalu.

(1,319 views)
Tags: