Tunggakan Biaya Pengobatan Pasien Hiv Aids Mencapai Ratusan Juta Rupiah

Klinik CVT RSUD Subandi saat ini mengalami kesulitan anggaran untuk biaya pengobatan pasien penderita hiv-aids. Sebab meski sebelumnya ada SK bupati untuk penggratisan pengobatan pasien hiv-aids, ternyata sejak 2006 baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tidak pernah mengeluarkan anggaran subsidi secara optimal.

Kepala klinik VCT RSUD Subandi dokter Justina Evy mengatakan, saat ini pasien miskin yang tak terdata sebagai warga miskin tidak bisa mendapatkan jamkesmas maupun jamkesda. Bahkan surat keterangan miskin atau SKTM dari desa saat ini sudah tidak berlaku lagi. Padahal kenyataannya mayoritas pasien hiv aids yang datang ke RSUD Subandi dari kalangan miskin yang tidak tercover jamkesda.

Untuk tahun 2006 dan 2007 klinik VCT masih memberanikan diri membebaskan biaya rawat jalan dan rawat inap. Namun tahun 2008 hanya mampu membebaskan biaya rawat jalan, meskipun tanpa adanya sokongan dana dari pemerintah. Baru tahun 2008 dan 2009 pemprov menurunkan bantuan untuk ARV, obat yang harus dikonsumsi secara rutin oleh penderita hivaids. Kemudian Juli 2010 klinik VCT mendapat paket bantuan obat tuberkulosis dan hiv.

Yang membuat Evi prihatin, sejauh ini belum ada kejelasan siapa yang akan menanggung biaya pengobatan pasien penderita hiv aids dari kalangan keluarga miskin tahun sebelumnya. Padahal Evi memperkirakan jumlah tunggakan mencapai ratusan milyar rupiah. Sementara untuk membiarkan pasien penderita hiv-aids sangat tidak mungkin dilakukan.

Evi berharap pemerintah baik pusat maupun daerah tahun 2011 mendatang bisa lebih memperhatikan lagi penderita hiv-aids. Sebab klinik VCT membutuhkan biaya rutin untuk pengobatan pasien hiv aids, sementara pihak rumah sakit membatasi anggaran untuk klinik VCT karena SK bupati tidak didukung dengan ketersediaan anggaran dalam APBD.

Pembatasan oleh pihak rumah sakit bisa dipahami, karena untuk biaya perawatan per bulan klinik VCT membutuhkan dana sekitar 6 sampai 7 juta rupiah per pasien. Karena untuk biaya obat sekelas obat generik saja minimal seharga 800 ribu rupiah per pasien. Jika beban ini terus dibebankan kepada rumah sakit bukan tidak mungkin satu sampai dua tahun kedepan RSUD Subandi akan tutup karena bangkrut.

(1.455 views)
Tag: