Mencermati Perseteruan PKS Dan Taufik Setyadi

Sejak beberapa hari yang lalu, di beberapa media cetak maupun elektronik, selalu dihiasi dengan berita perseteruan panas, antara Bakal Calon Bupati Jember, Taufik Setyadi dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jember. Perseteruan ini bermula, saat taufik setyadi melaporkan Ketua DPD PKS Jember, dan tim penjaringan calon bupati PKS atau biasa disebut tim delapan, kepada pihak kepolisian. Kepala Perhutani Jember itu, melaporkan DPD PKS dan tim 8 dengan tuduhan penipuan.  Mengapa demikian? Taufik merasa ditipu oleh pengurus PKS, lantaran rekomendasi dari DPW PKS Jawa Timur, tidak turun kepadanya, melainkan kepada calon lain. Padahal, pada saat itu, Taufik sudah memberikan sejumlah uang sebesar 600 juta rupiah, kepada pengurus PKS. Terkait persoalan tersebut, mungkinkah kasus ini akan berujung kepada jalan damai? Ataukah sebaliknya? Kemudian, benarkah rekomendasi PKS diberikan kepada calon lain, lantaran Taufik tidak mampu membayar mahar yang ditawarkan PKS?

Perseteruan antara PKS dan Taufik Setyadi kian terlihat memanas, saat sabtu kemarin, Pengurus PKS didampingi kuasa hukumnya, melaporkan balik Taufik Setyadi, dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik.

Anggota Tim Delapan PKS Jember, Nanang Nasir mengatakan, pihaknya merasa terganggu, atas kedatangan sejumlah polisi hutan di Kantor DPD PKS. Akibatnya, pengurus yang akan datang ke kantor, merasa tidak nyaman dan merasa diintimidasi.

Terkait pemberian uang dari Taufik, Nanang mengaku memang menerimanya. Hanya saja kata dia, pada saat rekomendasi dari dpw turun kepada calon lain, pihaknya langsung mengembalikan uang tersebut, kepada salah satu tim Taufik. Sehingga menurut Nanang, pihaknya sudah tidak mempunyai tanggung jawab, terhadap uang tersebut.

Nanang juga membantah, jika uang yang diberikan kepada PKS tersebut, merupakan bagian dari money politik. Menurut dia, pada pelaksanaan pemilu kada, PKS tidak hanya memberikan rekomendasi saja, namun juga menyiapkan program pemenangan. Yang tentunya kata Nanang, program pemenangan tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sehingga lanjut politisi asal kalisat itu, uang yang diberikan oleh calon kepada PKS digunakan sebagai biaya pemenangan. PKS sendiri dilarang menerima uang untuk membeli rekom.

Nanang kembali membantah, isu yang beredar di luar, jika rekomendasi PKS turun kepada calon lain, lantaran taufik setyadi, tidak mampu memberikan uang kepada pihaknya sebesar 1 miliar rupiah. Menurut Nanang, persoalan rekomendasi menjadi kewenangan dari dpw. DPD PKS Jember hanya mengusulkan dua nama kepada DPW Jawa Timur.

Nanang juga berharap, kepada seluruh konstituen PKS, agar tidak mudah percaya terhadap isu-isu negative, yang beredar di luar. Sebab menurutnya, PKS sendiri tidak pernah mengambil sejumlah uang yang selama ini dituduhkan.

Tidak jauh berbeda dengan Nanang, Ketua Fraksi PKS DPRD Jember, Yuli Priyanto, mengatakan turunnya rekomendasi PKS kepada calon lain, lantaran pertimbangan elektabilitas bagong sangat tinggi. Jadi kata dia, sangat wajar apabila DPW PKS Jawa Timur, memberikan rekom kepada Bagong.

Terkait perseteruan pihaknya dengan Taufik, menurut Yuli, sejak awal PKS ingin bertemu langsung dengan taufik, untuk menyampaikan, rekomendasi PKS tidak turun kepadanya, melainkan kepada Bagong Sutrisnadi. Dan saat itu juga PKS akan mengembalikan uang senilai 600 juta rupiah langsung kepada taufik.

Hanya saja sayangnya lanjut Mantan Ketua DPD PKS Jember itu, taufik tidak hadir langsung, melainkan mengutus 4 orang kepercayannya. Mengenai uang dari taufik, yuli mengaku, sudah mengutus anggota pandu PKS, untuk membawa ke dalam sebuah mobil panther yang dibawa oleh utusan taufik. Di dalam mobil tersebut ada orang bernama iwan, utusan taufik.

Dijelaskan, agar persoalan ini tidak berlarut-larut dan semakin panjang, PKS sudah mengirimkan anggota dewan, untuk melakukan komunikasi dengan taufik dan kapolres jember. Yuli kawatir, jika persoalan terus berlarut-larut, akan berimbas kepada kelangsungan pemilu kada mendatang.

Sementara Bacabup Taufik Setyadi ketika di konfirmasi melalui telfon selulernya, mengaku siap untuk berdamai dengan PKS. Hanya saja kata dia, PKS tidak perlu berusaha untik menutup-nutupi kesalahannya.

Taufik meminta kepada PKS maupun tim delapan, agar bersikap ksatria, untuk meminta maaf secara langsung kepadanya dan tentunya mengembalikan uang yang telah ia setorkan.

Terkait gugatannya, Taufik tidak keberatan untuk mencabut gugatannya kepada PKS. Namun sebagai pihak yang bersalah, sudah selayaknya PKS meminta maaf dan menanggung biaya pengacara, yang sudah mendampinginya saat melapor ke Mapolres Jember beberapa waktu lalu. Tetapi karena persoalan ini merupakan delik pidana murni, menjadi kewenangan kapolres untuk menghentikan atau melanjutkan proses hukumnya.

Perseteruan antara PKS dan Taufik ini, berimbas kepada kekecawaan sejumlah Pengurus DPC PKS. Seperti pengakuan Ketua DPC PKS Arjasa, Jumantoro.

Menurut Jumantoro, mayoritas dpc menunggu pejelasan dari dpd sebelum memutuskan akan mundur atau tidak. Tetapi Jumantoro sendiri, sudah menyampaikan secara lisan untuk mundur dari jabatanya sebagai ketua dpc.

Jumantoro menambahkan, pengalamannya saat ini di PKS bisa menjadi pelajaran berharga. Sehingga kedepan dirinya bisa lebih berhati-hati dalam memilih partai politik. Jangan sampai dirinya terjerumus lagi masuk ke dalam partai politik yang hanya pandai merangkai kata, tetapi tidak bisa mengimplementasikannya.

Sementara itu, kemarin ratusan massa pendukung Taufik Setyadi, yang tergabung dalam lembaga masyarakat desa hutan, melakukan aksi unjuk rasa, di depan gedung PKS.

Unjuk rasa tersebut menurut korlap aksi, Arief Nur Alif, merupakan aksi solidaritas kepada Taufik Setyadi. Menurut dia, selama ini taufik sangat baik dan mengayomi kepada masyarakat di desa hutan. Jadi kata Arif, sudah menjadi kewajiban pihaknya, memberikan dukungan dan solidaritas kepada taufik, yang didholimi oleh PKS Jember.

(1.080 views)
Tag: