Mencermati Kembali Rencana Kenaikan H-E-T Pupuk Kimia

Dalam waktu dekat, pemerintah dikabarkan berencana akan menaikkan harga eceran tertinggi (HET), pupuk kimia jenis urea sebesar 50 persen, dan untuk pupuk non urea berkisar antara 35-70 persen. Untuk saat ini, HET pupuk kimia berkisar antara 120 ribu rupiah, itu artinya, jika dinaikkan sekitar 50 persen, maka harga pupuk kimia akan mencapai 180 ribu rupiah. Terkait persoalan tersebut, bagaimana pemerintah daerah menyikapi rencana kenaikan pupuk kimia? Kemudian, bagaimana pula dewan menyikapi rencana tersebut? Dan bagaimana reaksi petani?

Rencana pemerintah menaikkan HET harga pupuk kimia sebesar 50 persen, dinilai, sangat memberatkan bagi petani. Apalagi dengan kenaikan tersebut, tentu akan berdampak kepada bertambahnya biaya produksi petani pada musim tanam mendatang. Seharusnya pemerintah lebih arif dan bijaksana, dan melihat kenyataan di lapangan, petani di indonesia belum siap, menghadapi kenaikan pupuk. Demikian ungkapan, Ketua Forum Komunikasi Petani Jember, Jumantoro.

Menurut dia, jika memang kebijakan ini direalisasikan, tentu keberlangsungan kehidupan petani semakin terancam. Sebab di lapangan, harga gabah kering petani, masih jauh dari harga yang ditetapkan oleh bulog.

Untuk itulah lanjut jumantoro, dirinya mendesak pemerintah untuk membatalkan rencana kenaikan tersebut. Dan yang tak kalah penting, wakil rakyat juga memperjuangkan nasib petani.

Sementara Kepala Disperindag Jember, Hariyanto menjelaskan, rencana kenaikan harga eceran tertinggi pupuk kimia hingga 50 persen, merupakan salah satu upaya pemerintah, agar beralih kepada pupuk organic.

Apalagi lanjut Hariyanto, keberadaan pupuk organik saat ini juga mendapatkan subsidi dari pemerintah. Masyarakat khususnya petani, saat ini sangat tergantung terhadap pupuk kimia, padahal stok pupuk kimia juga sangat terbatas. Jadi kata Hariyanto, bisa jadi kebijakan pemerintah dengan menaikkan harga pupuk kimia, agar petani beralih kepada pupuk organic.

Dikonfirmasi terpisah, Anggota Komisi B DPRD Jember, Mohammad Thoif Zamroni mengatakan, kenaikan HET pupuk kimia sebesar 50 persen, tentu sangat memberatkan bagi masyarakat petani.

Apalagi lanjut Thoif, hasil pertanian semakin menurun, lantaran cuaca yang tidak menentu, kemudian, serangan hama terhadap tanaman. Untuk itulah, dirinya meminta agar kenaikan tersebut sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Saat petani belum siap menghadapi kenaikan pupuk.

Jika memang kata Thoif, pemerintah tetap menaikkan harga pupuk kimia, FKNU akan memperjuangkan, agar APBD Jember, menganggarkan subsidi untuk pembelian pupuk organic.

Thoif berharap, jika memang kenaikan tersebut tidak bisa dibendung, alangkah lebih baiknya, pemerintah mensosialsiasikan terlebih dahulu kepada masyarakat. Thoif kawatir, jika tidak ada sosialisasi, petani akan panik dan akan membeli pupuk dalam jumlah besar. Akibatnya, kelangkaan pupuk kembali akan terjadi.

(778 views)
Tag: