Melihat Kesiapan Petani Jember Hadapi CAFTA

Sejak awal januari lalu, perjanjian Perdagangan China- Asean atau China-Asean Free Trade Area (CAFTA) mulai diberlakukan di negeri ini. Sebagai konsekuensinya, semua barang produk dari cina, yang notabene harganya jauh lebih murah dari produk local, akan masuk ke negeri dengan mudah. Tak terkecuali produk pertanian. Jika memang demikian persoalannya, bagaimana kesiapan Petani Jember menghadapi perdangan bebas Cina Asean? Lalu, apa saja upaya dinas terkait, menghadapi Perdangan Bebas Cina Asean?

Ada banyak dampak positif pasca CAFTA diberlakukan, meski dampak negatifnya juga tidak sedikit. Misalkan, pasca CAFTA diberlakukan, semua barang dari cina dan asean, akan saling bebas masuk, tanpa dibebani tarif sepeserpun. Namun dampak negatifnya, jika produk lokal tidak mampu bersaing dalam harga, maka jangan harap industri ataupun produk lokal akan bersaing dari produk cina.

Menurut Koordinator Forum Komunikasi Petani Jember, Jumantoro, sejauh ini hampir sebagian besar Petani Di Jember, belum tahu apa itu CAFTA. Petani di jember saat ini memikirkan menghadapi musim panen raya.

Sebab lanjut Jumantoro, harga gabah menjelang panen raya biasanya akan jatuh. Memang saat ini harga gabah kering panen masih berkisar 2600, namun menjelang panen raya, biasanya harga tersebut turun hingga 2300 rupiah saja.

Jumantoro menambahkan, lambannya informasi kepada petani, disebabkan regenerasi di sektor pertanian masih lemah. Generasi penerus masih jarang berfikir tentang pertanian, padahal mayoritas penduduk di negeri ini bercocok tanam. Jumantoro kawatir, jika hal ini terus terjadi, maka jangan harap produk pertanian jember, akan bisa bersaing terhadap produk-produk dari cina.

Lebih jauh Jumantoro menjelaskan, sebenarnya kualitas produk lokal pertanian jember, tidak kalah jika dibandingkan dengan produk dari cina. Hanya saja, sejauh ini petani masih minim sekali terobosan atau inovasi.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian Jember, Hari Wijayadi menjelaskan, mau tidak mau Jember harus siap menghadapi pemberlakuan CAFTA. Justru kata dia, dengan pemberlakuan CAFTA, Produk Pertanian Jember harus bisa membuktikan, bahwa kualitasnya tidak kalah bersaing dengan produk cina.

Dinas pertanian sendiri lanjut Hari, jauh-jauh hari sebelum pemberlakukan CAFTA, sudah melakukan beberapa persiapan. Sebut misalkan, pemberdayaan petani melalui penyuluh di lapangan, kemudian, intensifikasi produksi pertanian, serta program pemberdayaan lain, terutama peningkatan kualitas SDM petani.

Hari menambahkan, kualitas produk Pertanian Jember tidak kalah dengan produk dari Cina. Misalkan, kualitas buah-buahan seperti jeruk, salak, manggis, durian tidak kalah dengan produk dari cina.

Jadi kata dia, tidak ada perlu yang dikawatirkan mengenai pemberlakuam CAFTA. Pemkab akan terus mendorong masyarakat khususnya petani, untuk terus meningkatkan kualitas SDM serta produk pertaniannya.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Kepala Bulog Jember, Subali Agung Gunawan menjelaskan, keberadaan CAFTA mau tidak mau harus dihadapi oleh masyarakat. Untuk itulah, saat ini yang perlu difikirkan bersama-sama, bagaimana mengantisipasi dampat terburuk pasca penerapan CAFTA.

Agung menambahkan, khusus sektor pertanian, jika dilihat dari harga, di cina maupun kawasan asean, memang cenderung fluktuatif, atau masih berubah-ubah. Hanya saja hal ini harus diantisipasi oleh pemerintah. Tidak menutup kemungkinan, harga yang ditawarkan oleh negara lain, lebih murah dibandingkan dengan produk dalam negeri.  Sehingga nantinya masyarakat akan memilih barang dari luar, akibatnya, industri atau produk pertanian dalam negeri terancam tidak laku, lantaran tidak bisa bersaing.

(3.515 views)
Tag: